finnews.id – Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta mengungkap temuan mengejutkan terkait penyebaran paham radikalisme di kalangan anak-anak.
Wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur kini menjadi perhatian serius setelah ditemukan kasus anak yang terpapar ideologi ekstrem, termasuk Neo-Nazi, melalui grup Telegram.
Tenaga Ahli UPT PPPA DKI Jakarta, Chairul Luthfi, mengungkapkan bahwa dunia maya kini menjadi pintu masuk utama indoktrinasi. Berbeda dengan pola konvensional, kelompok radikal kini memanfaatkan aplikasi pesan instan yang memiliki enkripsi tinggi.
“Awalnya berasal dari grup Telegram, kemudian berkembang hingga mempelajari paham Neo-Nazi,” ujar Chairul di Jakarta Selatan, Rabu (28/1/2026).
Fakta Temuan di Lapangan:
- Total Korban: Ditemukan 5 anak terpapar paham radikalisme hasil penelusuran bersama Densus 88 Antiteror Polri.
- Kasus Ditangani: 2 anak (1 di Jakarta Selatan dan 1 di Jakarta Timur) sudah dalam penanganan intensif PPAPP DKI.
- Platform Utama: Grup Telegram tertutup yang sulit diawasi secara publik.
Anak-anak menjadi sasaran empuk karena akses informasi yang tanpa filter. Chairul menekankan bahwa ideologi radikal tidak lagi menyebar di ruang fisik saja, melainkan masif di ruang digital.
“Selain ruang publik, dunia maya harus menjadi perhatian serius orang tua. Banyak modus yang menyasar anak melalui platform digital,” tegas Chairul.
Jakarta Selatan: Wilayah dengan Kasus Kekerasan Tertinggi Kedua
Data sepanjang tahun 2025 menunjukkan urgensi perlindungan anak di ibu kota semakin meningkat:
- Total Kasus: PPPA DKI menangani 2.269 kasus kekerasan perempuan dan anak.
- Fokus Jakarta Selatan: Tercatat 460 kasus, menjadikan wilayah ini tertinggi kedua di DKI Jakarta.
Hal ini menjadi alarm bagi para orang tua untuk tidak hanya menjaga anak di dunia nyata, tetapi juga memantau “pergaulan” mereka di gawai masing-masing.
Jika Anda menemukan tanda-tanda perubahan perilaku pada anak atau adanya grup media sosial yang mencurigakan, segera ambil tindakan.