finnews.id – Perang antara Rusia dan Ukraina yang dimulai pada Februari 2022 telah menelan korban militer hampir 2 juta orang, menurut studi terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah thinktank asal Amerika Serikat.
Laporan ini mencatat bahwa pasukan Rusia menanggung kerugian terbesar, dengan sekitar 325.000 tentara tewas dari total 1,2 juta korban militer selama hampir empat tahun konflik.
Sementara itu, pasukan Ukraina juga mengalami kerugian besar, diperkirakan antara 500.000 hingga 600.000 tentara, dengan 100.000 hingga 140.000 di antaranya tewas.
Pernyataan Presiden Ukraina dan Kesulitan Memverifikasi Korban Rusia
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dalam wawancara dengan NBC pada Februari 2025, menyebutkan bahwa negaranya telah kehilangan hampir 46.000 tentara, ditambah puluhan ribu lainnya yang hilang atau ditawan. Para analis menilai angka ini kemungkinan lebih rendah dari realitas.
Di sisi lain, kerugian Rusia tetap menjadi rahasia negara, dengan data resmi terakhir yang dirilis pada September 2022 menunjukkan angka 5.937 korban tewas. Media independen seperti BBC Russian Service dan Mediazona mencatat lebih dari 163.000 tentara Rusia tewas, meski angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.
Serangan Terhadap Sipil dan Infrastruktur Vital
Selain kerugian militer, serangan Rusia terhadap infrastruktur sipil terus menimbulkan korban. Sebuah serangan drone terhadap kereta penumpang di wilayah Kharkiv menewaskan lima orang, sementara ratusan penumpang lainnya mengalami trauma.
Serangan serupa terjadi di Odesa, Donetsk, Zaporizhzhia, dan Kherson, menewaskan puluhan orang dan melukai banyak lainnya, termasuk anak-anak dan wanita hamil. Dampak serangan ini juga menimbulkan krisis energi, dengan lebih dari 700.000 warga Kyiv kehilangan listrik dan pemanas, situasi yang bisa menjadi fatal dalam musim dingin yang ekstrem.
Kontroversi Teknologi dan Penggunaan Satelit
Kontroversi juga muncul terkait penggunaan teknologi. Polandia meminta Elon Musk untuk memutus akses Rusia ke layanan satelit Starlink, yang menurut laporan Institute for the Study of War digunakan untuk menuntun serangan drone Rusia ke Ukraina.
Musk membantah adanya penjualan resmi Starlink ke Rusia, meski intelijen Ukraina menyebut pasokan diperoleh melalui pihak ketiga.