Catatan Dahlan Iskan

Kumpul Optimis

Catatan Dahlan Iskan

Bagikan
Bagikan

Oleh: Dahlan Iskan

Dua hari yang happy: Sabtu-Minggu kemarin. Sejak pagi sampai menjelang malam. Itulah hari-hari penuh optimisme: kumpul bersama 50 pengusaha kecil-menengah. Wira-wiri dalam satu bus: ”wisata bisnis bersama Disway”. Nama kerennya: Disway Explore Business Jatim Series.

Kunjungan pertama kami ke pabrik kosmetik: Viva. Yang sudah berusia 62 tahun. Saya kenal pemilik generasi pertamanya. Pun sampai yang kini generasi ketiga. Konimex Solo juga punya saham di Viva.

Dari peserta wisata ini saya tahu: bisnis kosmetik kini menjamur ibarat jamur. Begitu banyak anak muda yang punya follower medsos lebih dari 10.000 bisa memanfaatkan follower-nya: bikin bisnis kosmetik: umumnya dimulai dari produk skin care.

Mereka tidak harus punya pabrik. Seribu satu cara mereka upayakan untuk menemukan resep ramuannya. Lalu pergi ke pabrik yang bisa meramu dan mengemaskannya. Dalam bahasa Belanda disebut Maakloon.

Banyak pabrik yang menerima pekerjaan maklon seperti itu. maklon artinya: menyerahkan pekerjaan ke orang lain. Zaman dulu, yang biasa dimaklonkan adalah tekstil. Atau produk kulit. Lalu apa saja. Di zaman modern berkembang ke kosmetik.

Bahkan kini ada kosmetik yang produsennya hanya punya nama: resepnya pun terserah tempatnya maklon. Pokoknya akan digunakan untuk apa dengan merek apa.

Di zaman gempuran ”semut” bisnis kosmetik saperti itu Viva masih terus bertahan. Saya istilahkan ”semut” karena produk kosmetik itu skalanya kecil tapi banyaknya seperti semut. Setiap ada yang mati satu tumbuh 999 yang baru.

Itu bukan kali pertama Viva menerima gempuran di pasar. Di awal Orde Baru Viva dikepung oleh produk-produk kosmetik asing. Oleh nama-nama besar. Viva justru mendeklarasikan sebagai kosmetik made in lokal Indonesia.

Viva tahu Indonesia itu negara tropis. Kosmetik asing dibuat untuk kulit empat musim. Dengan mengibarkan ”made in” Indonesia justru Viva ingin meneguhkan: dirinyalah yang lebih tahu iklim tropis.

Dari pabrik Viva kami menuju Sidoarjo: ke kawasan industri halal. Pertama di Indonesia. Namanya: SEZ Halal Industrial Park Sidoarjo (HIPS). Luasnya: 148 hektare. Pemiliknya sama dengan pemilik kawasan industri Safe ‘N’ Lock –lokasi keduanya memang berimpitan.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Stres Debanking

Oleh: Dahlan Iskan Debanking. Unbanked. Itu dua hal yang berbeda. Yang lagi digugat Donald...

Catatan Dahlan Iskan

Hady Alan

Oleh: Dahlan Iskan Iri. Umur segitu masih sangat sehat. Wajahnya masih halus...

Catatan Dahlan Iskan

Belah Tiga

Oleh: Dahlan Iskan Perkembangan terbaru: minyak goreng canola membunuh zaitun. Akhirnya ada...

Catatan Dahlan Iskan

Transformasi Ngambek

Oleh: Dahlan Iskan Pemimpin transformasional tidak boleh ngambek. Boleh. Setengahnya saja. Pun...