Ia tidak memilih hadiah naik haji. “Naik haji kan bisa dilakukan kelak ketika sudah mampu,” katanya.
Ayahnya seorang petani di desa Tulungagung selatan. Tapi semua saudaranya jadi sarjana –dua di antaranya menjadi guru besar. Hanya satu yang jadi dokter: Supriyanto sendiri –atas permintaan ibunya.
Setelah dua tahun bertugas di kampung halaman ia tahu banyak: kemiskinan, penyakit mereka apa saja dan budaya masyarakatnya. Karena itu ia tidak jadi pilih spesialis kandungan. Ia pilih bedah umum –yang paling diperlukan di daerah.
Di kemudian hari kariernya sampai pada jabatan direktur RSUD Tulungagung. Ia membuat sejarah: melahirkan HWW di sana.
HWW telah membuat nama Supriyanto dan Tulungagung menasional –bahkan mendunia. Proses mewujudkannya tidak mudah –sampai ada ceritanya di Disway edisi besok. (Dahlan Iskan)