finnews.id – Perkembangan teknologi medis kembali mencetak terobosan. Peneliti asal China berhasil menciptakan robot bedah mata otonom yang mampu melakukan prosedur operasi dengan tingkat ketelitian sangat tinggi, bahkan melampaui kemampuan tangan manusia.
Robot ini dirancang khusus untuk membantu operasi mata bagian dalam, terutama retina — area yang sangat kecil, sensitif, dan berisiko tinggi jika terjadi kesalahan sedikit saja. Inovasi ini digadang-gadang dapat mengubah masa depan dunia oftalmologi.
Operasi Mata Bukan Perkara Mudah
Operasi retina dikenal sebagai salah satu prosedur bedah paling rumit. Dokter harus bekerja di ruang yang sangat sempit, dengan gerakan presisi hingga skala mikrometer. Getaran tangan sekecil apa pun bisa berdampak serius pada penglihatan pasien.
Di sinilah peran robot otonom menjadi krusial. Dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) dan sistem visual 3D, robot ini mampu menggerakkan instrumen bedah secara stabil dan akurat tanpa terpengaruh kelelahan atau tremor tangan manusia.
Lebih Akurat dari Tangan Manusia
Dalam berbagai uji coba, robot bedah mata ini menunjukkan hasil yang mengesankan. Tingkat kesalahan posisi jarum saat injeksi intraokular turun drastis dibandingkan metode manual. Bahkan, hasilnya lebih konsisten dibandingkan operasi yang dilakukan oleh dokter berpengalaman dengan bantuan robot konvensional.
Artinya, robot ini tidak sekadar membantu dokter, tetapi mampu menjalankan tindakan bedah secara mandiri dengan pengawasan minimal.
Membantu Dokter, Bukan Menggantikan
Meski bersifat otonom, para peneliti menegaskan bahwa robot ini bukan untuk menggantikan dokter. Sebaliknya, teknologi ini dirancang sebagai alat pendukung yang meningkatkan keamanan pasien dan mengurangi risiko kesalahan medis.
Dengan robot ini, dokter bisa lebih fokus pada pengambilan keputusan klinis, sementara robot menangani pekerjaan teknis yang membutuhkan ketelitian ekstrem.
Harapan Baru untuk Pasien dan Daerah Terpencil
Keunggulan lain dari robot bedah mata otonom ini adalah potensinya untuk digunakan di daerah yang kekurangan dokter spesialis mata. Di masa depan, teknologi ini juga berpeluang digunakan dalam kondisi ekstrem, termasuk misi luar angkasa.