Dari sisi program FLPP, Pemerintah tetap mempertahankan skema KPR Sejahtera pada 2026 dengan subsidi uang muka Rp4 juta untuk MBR guna menurunkan beban awal pembelian rumah. Harga rumah subsidi juga tidak naik dan masih mengikuti batas maksimal 2024 sesuai zonasi, sehingga menjaga keterjangkauan dan berpotensi menopang permintaan KPR di tengah pemulihan sektor properti.
Katalis positif lainnya bersumber dari penyerapan belanja BTN. Bank spesialis properti ini menghimpun dana Rp2,3 triliun melalui penerbitan dua obligasi pada Desember 2025. Dana bersih sebesar Rp2,28 triliun telah terserap sepenuhnya per 31 Desember 2025. Sebanyak Rp294,80 miliar dialokasikan untuk proyek sosial dan perumahan terjangkau, sementara Rp1,99 triliun digunakan untuk memperkuat permodalan serta mendukung ekspansi kredit perusahaan.
Selain aspek fundamental, pelaku pasar juga menyoroti sisi teknikal pergerakan harga saham. Dalam riset yang dipublikasikan pekan lalu, Galeri Saham mencermati BBTN tengah berkonsolidasi sehat dan terus menguji level resisten terkuatnya di level 1175.
“Jika level ini berhasil ditembus dan bertahan di atasnya, tentu ada potensi bagi BBTN untuk bergerak naik lebih tinggi menuju 1395 dengan minor target di 1270. Support yang naik terus menunjukan adanya dominasi buyer di saham ini. Trend optimizer yang berubah warna dari merah panjang ke putih menunjukan saham ini berada di fase bottom reversal,” tulis Galeri Saham.
Pada perdagangan rabu, BBTN berhasil menembus (breakout) resisten 1175 dengan diiringi lonjakan volume transaksi dan net buy. Harga terus menanjak hingga menyentuh level 1220.