1. Persaingan Ketat di Segmen Mewah dan EV
Meningkatnya kompetisi dari produsen lokal China, terutama untuk kendaraan listrik (EV) yang menawarkan harga lebih kompetitif dan fitur modern, membuat Porsche kehilangan pangsa pasar.
2. Kondisi Ekonomi Lokal
Belanja konsumen mewah di China lebih berhati-hati akibat pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dan tekanan pasar secara umum.
Masalah Regulasi dan Pasokan
Di Eropa, Porsche juga mengalami penurunan karena kesenjangan pasokan model populer seperti 718 dan Macan versi mesin pembakaran (ICE) karena aturan kinerja keamanan siber Uni Eropa.
Strategi Produk yang Sedang Berubah
Porsche sempat menunda peluncuran beberapa model EV dan menyesuaikan strategi produktifnya sehingga berdampak pada permintaan dan volume pengiriman.
Dampak pada Penjualan Global
Walaupun angka 26 persen merujuk ke penurunan penjualan di China, secara global total pengiriman Porsche turun sekitar 10 persen menjadi sekitar 279.449 unit pada 2025 dibandingkan 310.718 unit pada tahun sebelumnya. Ini menjadi penurunan terbesar sejak krisis keuangan global 2009.
Performa di Pasar Lain
Amerika Utara: Porsche berhasil mempertahankan penjualan stabil bahkan mencetak rekor tertinggi di AS, menjadi salah satu pasar terbaiknya.
Eropa: Penurunan juga terjadi di Jerman dan wilayah lain di Eropa, meskipun tidak separah di China.
Strategi Porsche ke Depan
Porsche kini fokus pada strategi “value over volume” — lebih mengutamakan nilai margin dan profitabilitas daripada jumlah unit terjual — sambil terus memperluas jajaran kendaraan listrik dan hibrida untuk memenuhi tren industri.
Penurunan penjualan Porsche sebesar 26 persen di China pada 2025 mencerminkan tantangan besar dalam menghadapi persaingan pasar EV serta perubahan preferensi konsumen di segmen kendaraan mewah. Meski penurunan global lebih moderat (sekitar 10 persen), fakta ini menunjukkan dinamika pasar otomotif mewah yang semakin kompetitif di tengah transisi menuju elektrifikasi dan perubahan kondisi ekonomi global.