finnews.id – Pasukan Israel dilaporkan bergerak maju ke desa-desa di pedesaan Quneitra, selatan Suriah, Jumat, 16 Januari 2026. Pergerakan pasukan diiringi dengan peralatan tempur.
Seperti dilaporkan Kantor Berita Suriah, SANA, tentara Israel mengerahkan delapan kendaraan militer dan tiga tank dari daerah Tel al-Ahmar ke arah barat menuju Ain al-Zaywan dan Sweisa di Quneitra Selatan.
“Pasukan tersebut menyebar di Sweisa selama sekitar satu jam sebelum bergerak menuju desa kecil Dawayah, sementara tank-tank secara bersamaan memasuki bukit Abu Qubais,” sebut laporan SANA.
Sumber-sumber lokal mengatakan pasukan tersebut sempat berada di sana sebelum mundur, tanpa laporan penangkapan atau korban jiwa.
“Sebelumnya pada hari Kamis, pasukan Israel memasuki desa Saida al-Hanout di Quneitra selatan dan menahan tiga pemuda untuk waktu singkat sebelum melepaskan mereka,” tambah SANA.
Invasi terbaru ini terjadi beberapa hari setelah tentara Israel memindahkan sekitar 250 ekor kambing dari wilayah Suriah dan mengangkutnya ke peternakan di pemukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki, seperti yang dilaporkan oleh Channel 7, stasiun televisi swasta Israel, pada hari Kamis.
Polisi militer Israel memberlakukan tindakan disiplin terhadap mereka yang terlibat, termasuk mencopot komandan tim, mengeluarkan teguran resmi kepada komandan kompi, dan menangguhkan aktivitas unit untuk jangka waktu yang lama, lapor Channel 7, menambahkan bahwa penyelidikan sedang berlangsung.
Invasi terbaru ini terjadi meskipun ada kesepakatan yang dicapai awal bulan ini antara Suriah dan Israel untuk membentuk mekanisme komunikasi yang diawasi AS yang bertujuan untuk mengurangi eskalasi militer dan memfasilitasi koordinasi, menurut pernyataan trilateral yang dikeluarkan setelah pembicaraan di Paris.
Pasukan Israel telah melakukan invasi hampir setiap hari ke wilayah Suriah, khususnya di pedesaan Quneitra, menahan warga sipil, mendirikan pos pemeriksaan, menanyai orang yang lewat, dan menghancurkan lahan pertanian.
Setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir tahun 2024, Israel memperluas pendudukan Dataran Tinggi Golan Suriah dengan merebut zona penyangga yang didemiliterisasi, sebuah langkah yang melanggar perjanjian tahun 1974 dengan Suriah.