Proses menggugurkannya pun mudah. Janin itu disuntik. Akan mati sendiri. Mati dalam kandungan. Itu tidak bahaya bagi sang ibu. Kelak ”jenazahnya” diambil bersamaan dengan proses kelahiran.
Yang seperti itu terjadinya di luar negeri. “Saya pernah diminta melakukan penyuntikan seperti itu,” ujar Amang.
Yakni waktu ia memperdalam ilmu bayi tabung di luar negeri. “Saya tidak mau,” ujar Amang sambil bergidik.
Di samping memiliki perusahaan RS Waron, Amang memiliki perusahaan bernama Asha: itulah perusahaan bayi tabung. Lokasinya di dalam RS Waron.
Tentu Amang tidak hanya memikirkan urusan wanita seperti itu. Di situ juga ada perusahaan andrologi: ilmu reproduksi laki-laki. Lokasinya dipilihkan di lantai yang lebih atas. Desainnya juga lebih tertutup.
“Laki-laki ternyata lebih pemalu,” gurau Amang. Yakni kalau sudah menyangkut kelelakian mereka.
Satu jam kemudian tamu-tamu saya pun sudah selesai tur. Nano menyerahterimakan mereka ke saya. Obrolan bayi tabung pun berakhir seperti ejakulasi dini.
Tamu yang dari Singapura pun menyampaikan komentarnyi ke Amang: “Kalau saya ke Surabaya lagi bolehkah ambil kamar di rumah sakit ini. Daripada di hotel,” ujarnyi.
Kami semua tertawa ngakak. Saya sendiri ikut tertawa sambil berlinang air mata bangga: Surabaya sudah bisa mengalahkan Singapura. (DAHLAN ISKAN)