finnews.id – Aurelie Moeremans dikenal publik sebagai aktris multitalenta yang memulai karier sejak usia muda. Wajahnya kerap menghiasi layar sinetron, film, hingga platform digital. Namun di balik sorotan kamera dan popularitas, Aurelie adalah sosok dengan perjalanan batin yang panjang—penuh luka, pencarian jati diri, dan keberanian untuk berdamai dengan masa lalu. Memoar hidupnya, baik yang tersurat melalui wawancara maupun tersirat lewat unggahan pribadi, menjadi cermin perjalanan seorang perempuan muda yang terus bertumbuh.
Salah satu bab terpenting dalam “memoar” hidup Aurelie adalah keberaniannya berbicara tentang luka emosional dan hubungan personal yang tidak sehat. Ia tidak menutupi kenyataan bahwa masa lalu meninggalkan bekas yang dalam. Namun alih-alih terjebak sebagai korban, Aurelie memilih menjadikan pengalaman pahit sebagai ruang belajar. Kejujuran inilah yang membuat kisah hidupnya terasa dekat dan relevan, terutama bagi generasi muda yang sedang berjuang memahami dirinya sendiri.
Judul memoar yang ditulis Aurelie Moeremans adalah Broken Strings — dengan judul lengkap versi bahasa Indonesia “Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah” dan versi bahasa Inggrisnya disebut “Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth.”
Memoar ini dirilis secara independen oleh Aurelie sebagai e-book dan berisi kisah pribadinya, termasuk pengalaman trauma masa remaja serta perjalanan penyembuhan diri yang ia bagi kepada publik.
Pengalaman pahit tentang masa lalu yang diceritakan Aurelie Moeremans dalam memoar Broken Strings membuat perhatian publik kini tertuju pada buku yang ditulis sang aktris.
Bintang film Menunggu Pagi itu bahkan menyatakan keinginannya agar memoar yang ditulisnya itu bisa diangkat menjadi sebuah film atau series.
Melalui saluran Broken Strings Circle, aktris yang tengah menunggu kelahiran anak pertamanya itu mengungkap bahwa ia ingin memoar tersebut bisa memberikan dampak yang lebih luas.
Aurelie pun bertanya kepada para pengikutnya siapa sutradara yang kira-kira bisa menggarap memoarnya tersebut menjadi sebuah film.