finnews.id – Gelombang unjuk rasa di Iran kembali menarik perhatian dunia internasional setelah laporan kelompok hak asasi manusia menyebutkan sedikitnya 36 orang tewas dalam rangkaian protes yang berlangsung selama sekitar sepuluh hari terakhir. Peristiwa ini menandai eskalasi serius dalam dinamika sosial-politik Iran, terutama karena protes tersebut tidak hanya terpusat di ibu kota Teheran, tetapi juga menyebar ke sebagian besar wilayah negara itu. Situasi ini memperlihatkan keterkaitan erat antara tekanan ekonomi, respons aparat keamanan, serta perhatian komunitas internasional terhadap isu hak asasi manusia di Iran.
Latar Belakang Ekonomi dan Pemicu Protes
Unjuk rasa bermula pada akhir Desember ketika para pedagang dan warga di Teheran turun ke jalan menyuarakan kemarahan atas merosotnya nilai mata uang rial Iran terhadap dolar Amerika Serikat. Penurunan nilai tukar ini memperburuk daya beli masyarakat, sementara tingkat inflasi dilaporkan mendekati 40 persen. Tekanan ekonomi tersebut berakar pada kombinasi sanksi internasional terkait program nuklir Iran, persoalan tata kelola ekonomi, serta dugaan korupsi struktural yang telah lama menjadi sorotan.
Dalam konteks ilmu ekonomi modern, lonjakan inflasi yang disertai depresiasi mata uang sering memicu ketidakstabilan sosial. Studi yang dipublikasikan oleh International Monetary Fund menunjukkan bahwa negara dengan inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi stagnan memiliki risiko lebih besar mengalami protes massal. Fenomena ini sejalan dengan kondisi Iran, di mana ketidakpastian ekonomi menciptakan rasa frustrasi kolektif di berbagai lapisan masyarakat.
Penyebaran Aksi dan Respons Aparat Keamanan
Aksi protes yang awalnya terbatas di Teheran dengan cepat meluas ke setidaknya 27 dari 31 provinsi Iran. Mahasiswa universitas, pekerja, dan kelompok masyarakat lainnya turut bergabung, menandakan meluasnya ketidakpuasan publik. Rekaman video yang diverifikasi media internasional memperlihatkan aparat keamanan menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa, termasuk di kawasan Grand Bazaar Teheran yang memiliki nilai simbolik tinggi dalam sejarah politik Iran.
Kelompok Human Rights Activists News Agency melaporkan bahwa sebagian besar korban tewas merupakan demonstran, sementara sejumlah kecil berasal dari pihak aparat keamanan. Otoritas Iran belum merilis angka resmi korban jiwa, namun mengakui adanya korban di kalangan personel keamanan. Dalam ilmu kriminologi dan studi konflik, penggunaan kekuatan berlebihan dalam pengendalian massa sering kali justru memperbesar eskalasi kekerasan, sebuah pola yang juga terlihat dalam berbagai konflik domestik di negara lain.