finnews.id – Panglima militer Iran, Jenderal Amir Hatami menegaskan, Iran tidak akan tinggal diam dan membiarkan dirinya diancam oleh kekuatan luar. Penegasan ini disampaikan Hatami setelah Amerika Serikat dan Israel mendukung protes anti-pemerintah Iran.
“Republik Islam Iran menganggap peningkatan retorika permusuhan terhadap bangsa Iran sebagai ancaman dan tidak akan mentolerir kelanjutannya tanpa memberikan tanggapan,” kata Hatami, menurut kantor berita Fars, Rabu, 7 Januari 2026.
Hatami, komandan Angkatan Darat Iran, namun bukan perwira paling senior di Iran, memperingatkan bahwa “jika musuh melakukan kesalahan” tanggapan Iran akan lebih keras daripada selama perang 12 hari dengan Israel pada Juni lalu.
Dalam beberapa hari terakhir, Presiden AS Donald Trump telah mengancam akan campur tangan di Iran jika demonstran terbunuh, sementara Benjamin Netanyahu dari Israel telah menyatakan dukungan untuk protes tersebut.
Pedangan Teheran Protes Kenaikan Harga
Pada 28 Desember, para pedagang di Teheran menggelar protes terhadap kenaikan harga yang melonjak dan jatuhnya nilai rial, memicu gelombang aksi serupa di beberapa kota, beberapa di antaranya berujung pada kematian.
Demonstrasi tersebut belum mencapai skala gerakan tahun 2022 hingga 2023, apalagi demonstrasi jalanan massal tahun 2009 yang terjadi setelah pemilihan umum yang dipersengketakan.
Namun, protes ekonomi tersebut telah menarik perhatian internasional, termasuk dari para pemimpin musuh internasional Republik Islam Iran.
“Kami mengawasinya dengan sangat cermat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan mendapat teguran keras dari Amerika Serikat,” kata Trump kepada wartawan pada hari Minggu.
Sementara itu, Netanyahu mengatakan kepada kabinet Israel: “Kami berdiri dalam solidaritas dengan perjuangan rakyat Iran dan dengan aspirasi mereka untuk kebebasan, kemerdekaan, dan keadilan.”