Smart Swap: Pilih steel-cut oats yang mengandung serat dua hingga tiga kali lebih banyak untuk menurunkan risiko stroke dan penyakit jantung.
6. Gorengan vs Masakan Kukus
Mengonsumsi gorengan lebih dari empat kali seminggu meningkatkan risiko diabetes tipe 2 secara signifikan. Selain itu, membakar daging pada suhu ekstrem dapat memicu senyawa penyebab kerusakan DNA.
Smart Swap: Gunakan teknik memasak yang lebih ringan seperti mengukus, merebus, atau menumis sebentar.
7. Kue dan Pastry vs Crumble Buah
Kue komersial biasanya mengandung lemak trans dan tepung rafinasi yang memicu peradangan.
Smart Swap: Buatlah camilan manis sendiri di rumah menggunakan campuran gandum dan potongan buah asli agar kamu bisa mengontrol tingkat kemanisannya.
8. Keripik Kentang vs Camilan Renyah Alami
Proses penggorengan kentang dalam waktu lama menghasilkan akrilamida, senyawa yang berkaitan dengan risiko kanker.
Smart Swap: Ganti keripik dengan camilan renyah yang lebih sehat seperti popcorn tanpa mentega, kacang-kacangan, atau irisan wortel segar.
9. Produk Bebas Gluten Olahan vs Bahan Alami
Banyak orang menghindari gluten meski tidak memiliki gangguan kesehatan terkait. Seringkali, produk gluten-free olahan justru lebih mahal dan rendah serat.
Smart Swap: Pilih bahan yang secara alami bebas gluten seperti nasi merah atau quinoa daripada membeli produk olahan berlabel khusus.
10. Sirup Agave vs Stevia
Meskipun dianggap alami, sirup agave mengandung 84% fruktosa, jauh lebih tinggi daripada gula meja biasa (50%).
Smart Swap: Gunakan pemanis alami tanpa kalori seperti Stevia atau Erythritol yang tidak memengaruhi kadar insulin.
11. Yoghurt Rendah Lemak vs Greek Yoghurt
Untuk menutupi rasa yang hilang akibat lemak yang dikurangi, produsen sering menambahkan gula dan pati pada yoghurt rendah lemak.
Smart Swap: Pilih Greek Yoghurt tawar. Jenis ini kaya akan protein, kalsium, dan probiotik yang mendukung kesehatan pencernaan.
12. Produk Rendah Karbohidrat Olahan vs Sayuran Hijau
Jangan terkecoh label “Low Carb” pada makanan olahan. Penelitian terhadap 43 studi menunjukkan bahwa makanan ultra-proses tetap tidak baik bagi kesehatan meski rendah karbohidrat.