finnews.id – Gol menit akhir buyarkan kemenangan Liverpool dalam laga penuh tensi tinggi melawan Fulham di Craven Cottage. Pertandingan yang tampak akan berakhir dengan tiga poin bagi tim tamu berubah total hanya dalam hitungan detik, ketika sepakan jarak jauh Harrison Reed pada menit ke-97 menyamakan kedudukan dan memaksa kedua tim berbagi angka. Momen tersebut menjadi penutup dramatis dari pertandingan yang sejak awal memperlihatkan kontras gaya bermain, efektivitas peluang, serta peran teknologi dalam pengambilan keputusan.
Sejak awal laga, Liverpool berusaha mengontrol permainan melalui penguasaan bola yang dominan. Namun, dominasi tersebut tidak langsung menghasilkan ancaman berarti. Fulham justru tampil disiplin dengan organisasi pertahanan rapat dan transisi cepat, sebuah pendekatan yang kerap menyulitkan tim dengan intensitas penguasaan tinggi. Dalam konteks sepak bola modern, pendekatan ini mencerminkan tren pragmatis yang menekankan efisiensi energi dan optimalisasi peluang.
Babak Pertama: Efisiensi Fulham Menghukum Dominasi Liverpool
Liverpool memulai laga dengan ritme agresif meski tanpa penyerang utama mereka, Hugo Ekitike, yang absen akibat masalah hamstring ringan. Absennya sosok target man terlihat memengaruhi variasi serangan, terutama dalam memecah garis pertahanan rendah Fulham. Beberapa peluang tercipta, tetapi penyelesaian akhir belum mampu menguji kiper Bernd Leno secara serius.
Fulham justru menunjukkan efektivitas tinggi. Pada menit ke-18, serangan pertama mereka berbuah gol melalui Harry Wilson. Berawal dari umpan cerdas Raul Jimenez, Wilson melepaskan tembakan kaki kiri yang akurat ke sudut gawang. Gol tersebut sempat dianulir karena dugaan offside, namun tayangan ulang VAR memastikan posisi Wilson masih sejajar dengan Virgil van Dijk. Keputusan ini menegaskan kembali pentingnya teknologi garis virtual dalam meminimalkan kesalahan persepsi wasit.
Secara statistik, Liverpool unggul penguasaan bola pada babak pertama, tetapi gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dominasi teritorial tanpa penetrasi efektif sering kali tidak cukup untuk mengubah skor.