Catatan Dahlan Iskan

Silalahi Ande-ande

Bagikan
Bagikan

Maka kalau semula kami memesan ikan bakar sebagai pematut untuk nebeng makan durian jadilah kebablasan. Ikan bakar itu ludes. Beserta sambal dan nasinya.

Akibatnya durian di pikap masih tersisa banyak. Harus menyusun jadwal baru di mana akan menghabiskannya. Perjalanan masih panjang. Masih banyak kesempatan untuk membuat jalan kenangan.

Desa Silalahi sungguh berbatu. Tidak mungkin menjadi sumber kemakmuran –pun di masa depan. Maka keramba ikan itu masih merupakan sumber penghasilan penting.

Memang keramba bisa mengancam kelangsungan alami Danau Toba. Tapi sebelum ditemukan cara menghapus kemiskinan di pinggirnya rasanya sulit melarangnya.

Memang ada sumber penghasilan lain: menenun ulos Silalahi. Saya mampir ke tempat penenunan binaan Pemkab Dairi. Menantu Pak Iskan sangat menikmatinya –lalu menambah koleksi tenun dan ulosnyi.

Tapi tenun tetap sulit mendapat tempat di tengah murahnya produk tekstil modern. Itu hanya bisa dipakai alat bertahan. Tidak bisa dipakai sebagai jalan menuju kemakmuran.

Kalau pun mereka masih tertolong oleh ulos itu karena pegawai Pemkab Dairi wajib seragam ulos Silalahi seminggu sekali.

Kampung Silalahi benar-benar terjepit antara danau dan gunung tebal di belakangnya.

Pemkab Dairi sudah mencoba mencari jalan keluar: menembus isolasi Silalahi dengan cara membangun jalan tembus menuju kabupaten tetangga di kanannya: Kabupaten Samosir.

Anda sudah tahu: Kabupaten Samosir tidak hanya pulau Samosir yang di tengah Danau Toba itu. Kabupaten Samosir juga mencakup wilayah di seberang pulau. Sibea-bea, lokasi patung Yesus tertinggi di dunia, tidak terletak di pulau Samosir, meskipun termasuk Kabupaten Samosir.

Maka Sibea-bea mestinya bisa ditembus dari Silalahi. Sama-sama di pinggir danau. Lokasinya bersebelahan. Sebenarnya Silalahi dan Sibea-bea itu ibarat ”masih jauh di hati tapi dekat di mata”. Hanya perlu jalan tembus di pinggir danau.

Jalan itu sudah dibuat oleh Pemkab Dairi. Sudah sampai di perbatasan Kabupaten Samosir. Tapi pihak Samosir belum membuat jalan tembus untuk menyambut sambungannya itu. Ibarat orang salaman, Dairi sudah mengulurkan tangannya. Hanya belum bersambut.

Bagikan
Written by
Lina Setiawati

Bergabung dengan FIN CORP di 2024, Lina Setiawati membawa pengalaman jurnalistik lebih dari dua dekade sejak tahun 2000. Spesialisasinya mencakup analisis berita olahraga, dinamika politik, hukum, kriminal, serta peristiwa nasional terkini.

Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Berpisah Istri

976 langkah. Anda tidak bisa mengoreksi angka yang saya tulis itu. Hanya...

Catatan Dahlan Iskan

Imron Djatmika

  “Tidak apa-apa. Ini kan diasuransikan,” jawab saya selalu.   Sebenarnya saya...

Catatan Dahlan Iskan

FDI Purbaya

Ketiga, penertiban tambang batubara. Sebenarnya program ini sangat mulia. Toh hanya tambang...

Guinness Patrick
Catatan Dahlan Iskan

Guinness Patrick

Makan siang Patrick juga monoton: biasanya daging ayam yang hanya direbus. Bagian...