Catatan Dahlan Iskan

Empati Wanita

Bagikan
Empati Wanita
Empati Wanita
Bagikan

Jumat pagi itu dia menjalani fisioterapi pertama. Kesakitan luar biasa. Sampai dia tidak mau lagi fisioterapi. Kapok. Ketika temannyi merayu dengan ”cara wanita”, istri saya punya dalih yang kuat.

“Kita kan pernah melahirkan. Sakitnya juga luar biasa. Toh kita kuat,” kata sahabat itu.

Apa jawab istri?

“Sakit karena melahirkan kan hanya saat itu saja. Begitu bayi keluar selesai. Lega. Ini tidak seperti itu,” jawab istri. Dia benar sekali dengan jawabannyi.

Tapi fisioterapi itu mutlak. “Kalau tidak mau fisioterapi bisa fatal. Tidak akan bisa berjalan normal,” kata saya. “Akan kesakitan seumur hidup,” tambah saya.

“Bah-bah-no,” jawabnyi.

Bah-bah-no adalah bahasa Surabaya untuk bodo amat, biarin.

Lalu saya jelaskan secara detail apa yang terjadi dengan lututnyi. Seperti apa mekanisme kerja di dalam lutut itu. Risiko-risikonya. Saya tidak memaksanyi. Saya bisa memahami sakitnya setelah operasi lutut. Seperti semua jenis rasa sakit kumpul jadi satu. Mungkin lebih baik sakit hati daripada sakit fisioterapi.

Jelaslah bahwa istri saya tetap menolak fisioterapi. Bahkan di puncak penolakannyi dia bilang begini:

“Saya pilih mati!” katanyi.

Maka saya tidak mungkin lagi merayunya dengan ”gaya merayu wanita”. Saat dia bilang ”pilih mati saja” saya mengatakan padanyi: “Masalahnya Anda ini tidak bisa mati. Lutut itu jauh dari napas. Jadi, berharap mati juga tidak ada gunanya. Kalau tidak mau fisioterapi bukan mati tapi akan terus kesakitan seumur hidup”.

Dia kelihatan diam. Setelah lama diam saya cium keningnya, sambil berbisik: “nanti malam fisioterapi ya”.

Dia diam. Merengut.

Menjelang jadwal fisioterapi saya pergi. Menjemput pengantin baru dari Syria yang akan berbulan madu di Indonesia. Ia anaknya sahabat baru saya di sana.

Di jalan, saya monitor lewat Nicky yang menunggui istri saya. Alhamdulillah. Istri saya mau fisioterapi.

Kesakitan?

Sampai menangis.

Tapi fisioterapi kedua ini membanggakan. Dia bisa melangkah lima langkah. Istirahat. Lalu lima langkah lagi.

Kembali dari ”Syria” saya ke kamar istri di RS Orthopedi, Surabaya. Itu malam ketiga saya tidur di rumah sakit. Saya lihat istri berbaring sambil main HP.

Bagikan
Written by
Lina Setiawati

Bergabung dengan FIN CORP di 2024, Lina Setiawati membawa pengalaman jurnalistik lebih dari dua dekade sejak tahun 2000. Spesialisasinya mencakup analisis berita olahraga, dinamika politik, hukum, kriminal, serta peristiwa nasional terkini.

Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Board Manual

Tentu semua direksi dan komisaris BUMN harus membaca dan mendalami board manual...

Catatan Dahlan Iskan

Kumpul Optimis

Ia pengusaha Tionghoa asal Padang: Adi Saputra Tedja Surya. Punya bisnis hotel...

Catatan Dahlan Iskan

Stres Debanking

Kalau Senin hari ini kondisi obligasi di Jepang kian parah, perusahaan-perusahaan Trump...

Catatan Dahlan Iskan

Hady Alan

Oleh: Dahlan Iskan Iri. Umur segitu masih sangat sehat. Wajahnya masih halus...