finnews.id – Strategi Hamilton kembali dibahas menjelang race terakhir musim 2025, setelah komentar dari David Croft di Sky Sports F1 mengemukakan kemungkinan bahwa Oscar Piastri dapat memanfaatkannya. Persaingan gelar dinilai masih terbuka untuk tiga pembalap, sehingga pendekatan taktis dianggap relevan. Situasi ini membuat dinamika balapan semakin diperhatikan, terutama karena perhitungan poin dapat berubah secara drastis jika pembalap papan atas terkena tekanan dari belakang.
Dalam konteks penutupan musim yang ketat, strategi non-konvensional sering muncul sebagai faktor penentu. Piastri dianggap sebagai pembalap yang mungkin memanfaatkan taktik semacam ini, sebab peluang matematisnya menuntut berbagai kondisi tertentu agar gelar dapat dikejar.
Kilas Balik Strategi Hamilton pada 2016
Taktik yang pernah dijalankan Hamilton di Abu Dhabi pada 2016 sering dijadikan acuan. Saat itu, ia memimpin balapan sambil memperlambat ritme untuk membuat Nico Rosberg tertekan oleh pembalap lain di belakangnya. Strategi itu tetap berada dalam batas regulasi, meskipun kontroversial. Walaupun hasilnya tidak mengubah juara musim tersebut, manuver itu menunjukkan bahwa perlambatan ritme dapat menjadi alat strategis pada race penentuan gelar.
Pendekatan tersebut kembali relevan karena pola yang sama dapat diterapkan Piastri. Kondisi balapan yang mengharuskan hasil tertentu membuat pengaturan kecepatan dianggap sebagai opsi yang sah selama tidak melanggar aturan.
Perhitungan Poin Menempatkan Piastri pada Situasi Sulit
Peluang Piastri masih terbuka, tetapi syarat yang harus dipenuhi dianggap berat. Lando Norris memimpin klasemen dengan keunggulan 12 poin, dan finis di posisi ketiga sudah cukup baginya untuk meraih gelar. Verstappen perlu menang sambil berharap Norris finis keempat. Sementara itu, Piastri wajib meraih kemenangan dan berharap Norris finis di posisi keenam atau lebih rendah.
Karena skenario yang berat itu, pendekatan ritme balapan menjadi sorotan. Jika Piastri mampu memimpin balapan, peluang untuk menahan paket belakang agar memberi tekanan pada Norris dapat muncul. Tetapi hal itu sangat bergantung pada posisi start. Trek Abu Dhabi sering memberi hasil positif bagi Norris, sehingga peluang Piastri memulai dari pole dianggap tidak mudah.
Potensi Penggunaan Taktik Backing-Up
Menurut Croft, taktik backing-up masih dianggap wajar dalam konteks pertarungan gelar. Piastri pernah menyatakan kesediaan untuk memainkan peran tim bila diperlukan, sehingga pendekatan strategis dianggap tidak akan menimbulkan konflik internal. Walaupun sifatnya agresif, strategi semacam ini tetap dimungkinkan dalam batas kompetisi modern.
Croft juga melihat skenario mirip 2016 sebagai sesuatu yang realistis. Jika Piastri memimpin dan Norris berada tepat di belakangnya, pengaturan ritme dan tekanan dari pembalap lain dapat membuka peluang. Pada titik itu, keputusan setiap pembalap akan sangat ditentukan oleh tekanan balapan.
Norris Tetap Diunggulkan
Walaupun berbagai kemungkinan taktik dapat muncul, Norris tetap dipandang sebagai kandidat terkuat untuk menutup musim sebagai juara. Kebutuhannya yang minimal terhadap posisi akhir membuat peluangnya lebih stabil. Konsistensi performa dan catatan baiknya di Abu Dhabi menambah keyakinan bahwa ia berada pada posisi aman.
Namun, race terakhir selalu memunculkan kejutan. Jika Piastri dapat mengatur ritme dengan tepat, bukan tidak mungkin skenario taktis besar kembali terjadi seperti yang pernah terlihat sembilan tahun lalu.
Referensi: Crash