Finnews.id — Menjelang Natal, masyarakat Indonesia umumnya mempersiapkan hidangan khas seperti ayam opor, rendang, atau kue-kue tradisional. Namun, di pedesaan Afrika Selatan khususnya wilayah Limpopo dan Mpumalanga serta Zimbabwe, tradisi kuliner Natal menyajikan pemandangan yang kontras. Di wilayah ini, meja makan keluarga terisi oleh Ulat Mopane Goreng (Fried Caterpillars), yang dalam bahasa lokal disebut sebagai Masonja.
Ulat mopane (Imbrasia belina) merupakan larva dari ngengat kaisar. Larva ini hidup di pohon mopane, pohon yang khas mendominasi sabana Afrika bagian selatan. Ulat yang gemuk dan berwarna-warni ini memiliki panjang hingga 10 cm.
Dipanen di Musim Hujan dan Proses Pengolahan Tradisional
Setiap akhir tahun, musim hujan tiba dan menandai musim panen ulat mopane. Jutaan ulat ini secara tradisional dipanen oleh perempuan dan anak-anak desa. Proses pengolahan melibatkan beberapa tahap:
Isi perut ulat dikeluarkan (untuk membuang bagian pahit).
Larva direbus sebentar.
Kemudian, larva dijemur di bawah sinar matahari sampai kering.
Setelah kering, ulat ini biasanya digoreng dengan sedikit minyak, bawang putih, dan bumbu dapur sederhana, serupa dengan teknik menggoreng ikan teri.
Hasilnya, tekstur renyah di bagian luar dengan bagian dalam yang lembut. Banyak penikmat menggambarkan rasanya sebagai gurih nutty yang kaya umami.
Alasan Mopane Worms Menjadi Pilihan Menu Natal
Tradisi Ulat Mopane sebagai hidangan wajib Natal didasari oleh tiga faktor utama yang saling berkaitan:
Sinkronisasi Musim Panen: Musim panen Ulat Mopane selalu bertepatan dengan periode November hingga Desember, menyediakan sumber pangan melimpah menjelang libur Natal.
Efisiensi Biaya: Ulat mopane kering menawarkan harga yang sangat terjangkau, yaitu sekitar Rp15.000 hingga Rp25.000 per kilogram kering. Harga ini jauh lebih ekonomis daripada daging sapi atau ayam yang harganya melonjak selama masa liburan.
Kandungan Protein Tinggi: Ulat mopane dikenal memiliki kandungan protein yang luar biasa tinggi, yaitu mencapai 50 hingga 60 gram per 100 gram (hampir tiga kali lipat protein daging sapi). Di daerah yang menghadapi tantangan ketersediaan protein hewani, mopane worms berperan sebagai superfood lokal yang menyelamatkan gizi anak-anak.
Naik Kelas ke Restoran Mewah dan Kontroversi Sosial
Saat ini, fried caterpillars mengalami peningkatan status di kota-kota besar seperti Johannesburg atau Pretoria. Restoran mewah (fine dining) menyajikan ulat ini sebagai hidangan bush delicacy dengan harga premium. Kreasi kuliner modern pun muncul, seperti mopane worm burger, tacos, hingga chocolate bar.
Namun, konsumsi mopane worms menghadirkan kontroversi sosial. Generasi muda urban seringkali menunjukkan penolakan dan menganggap hidangan ini sebagai “makanan orang desa”.
Sebaliknya, di wilayah pedesaan yang memegang teguh tradisi, ketiadaan Masonja saat Natal dianggap menghilangkan esensi perayaan.
Meskipun hidangan ini terkesan ekstrem, mopane worms kering kini mudah ditemukan di pasar online internasional. Harga jualnya memang relatif mahal untuk impor, namun menawarkan pengalaman kuliner unik dan otentik bagi mereka yang ingin mencoba tradisi Natal yang berbeda.