Catatan Dahlan Iskan

Ampas Teh

Bagikan
Ampas Teh
Bagikan

Bukan hanya soal nafas. Kalau kereta ditambah begitu banyak gerbong akan bikin kacau lalu-lintas. Bisa jadi ekor gerbong itu sudah menghalangi perlintasan jalan raya. Banyak stasiun kereta kita hanya bisa cukup untuk parkir rangkaian pendek. Tidak jauh dari stasiun sudah ada jalan raya yang melintasi rel. Ini tidak terjadi di Tiongkok. Semua rel kereta cepat elevated.Di setiap musim libur caranya selalu menambah satu rangkaian seperti itu. Kapasitas langsung naik 100 persen. Tidak perlu menambah jadwal –karena jadwalnya sendiri sudah padat.

Misalnya kereta cepat Beijing-Tianjin. Jaraknya mirip Jakarta-Bandung: 30 menit. Pada jam sibuk tiap lima menit ada kereta cepat yang berangkat. Baru pada jam longgar dijarangkan. Itu pun menjadi tiap delapan menit.

Tiba di Huhehaote saya tolah-toleh. Saya sudah tidak kenal lagi kota ini. Bukan hanya berubah tapi sudah berganti. Sudah sama sekali bukan Huhehaote yang pernah saya kenal. Serbabaru. Serbamodern. Hutan gedung tinggi. Jalan lebar-lebar.

Tentu saya bukan turis. Karena itu tidak pergi ke padang pasirnya yang bergunung. Tidak ingin naik kuda di sana. Saya pilih lebih banyak bertemu orang.

Juga berkunjung ke rumah penduduk biasa. Kelas rakyat kampung biasa. Rumahnya di lantai 32 apartemen rakyat: dua kamar tidur, satu dapur, satu kamar mandi, ruang keluarga (ruang makan dan ruang duduk sofa panjang). Ngobrol dengan mereka soal kehidupan sehari-hari.

Diajak pula makan siang di rumah itu. Dia sendiri yang masak: toge rebus rasa cuka, ayam campur paprika, udang kecil masak kecap, mie kuah, dan satu lagi tidak tahu namanya tapi enak rasanya: teh telur.

Saya tanya bahannya apa saja. Ternyata unik. Setiap kali mereka bikin teh, ampas tehnya disimpan. Tiga telur ayam diaduk dengan ampas teh itu. Lalu digoreng.

Mereka selalu minum teh hitam dari provinsi Hunan. Ampasnya pun, katanyi, masih mengandung khasiat. Saya pun berpikir jauh ke masa lalu: saat Hunan masih sangat miskin. Mungkin ampas teh itu sayang dibuang. Orang miskin harus kreatif. Ampas teh pun bisa jadi lauk. Saya akan minta istri sesekali mencobanya.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Sirrul Cholil

“Salawat pada Nabi,” jawab si anak. Selesai berwudu Imam Jazuli langsung salat....

James Rachman Radjimin (duduk) sewaktu masih sehat.--
Catatan Dahlan Iskan

Carter 747  

Seperti umumnya pengusaha muda Radjimin juga pernah ”jatuh”. Tapi segera bangkit lagi....

Ilustrasi Nadiem Makarim-Gusti-Harian Disway-
Catatan Dahlan Iskan

Melanggar Sombong

Tentu ”mentereng”-nya jabatan menteri juga jadi faktor penggoda. Kapan lagi jadi menteri....

dr Edwin Ongkoraharjo (kiri) bersama Soedomo Mergonoto (tengah)
Catatan Dahlan Iskan

Pilihan Baru

Dengan suhu uap di atas 60 derajat sejumlah sel prostat di dekat...