finnews.id – Penganut ajaran Islam Aboge di Magetan baru merayakan Idul Fitri pada Selasa (1/4/2025). Berbeda dengan mayoritas umat Islam di Indonesia yang telah lebih dahulu merayakan Lebaran, mereka menjalankan salat Idul Fitri berdasarkan perhitungan kalender Aboge (Alip Rebo Wage), yang memiliki sistem penanggalan tersendiri.
Salah satu lokasi pelaksanaan salat Idul Fitri bagi komunitas Islam Aboge ini adalah Masjid Nurul Huda, Desa Pingkuk, Kecamatan Bendo. Salat Id berlangsung dengan khusyuk, diikuti oleh sekitar 30 jemaah. Kapolsek Bendo, Agus Suparno, menyatakan bahwa pelaksanaan ibadah ini berlangsung aman dan tertib dengan pengamanan dari sekitar 10 personel kepolisian.
“Alhamdulillah, pelaksanaan salat Idul Fitri berjalan dengan lancar. Jemaah menyelesaikan ibadahnya dengan baik, kemudian melanjutkan silaturahmi ke rumah keluarga dan kerabat,” ujar Agus.
Salat Idul Fitri dimulai sekitar pukul 06.30 WIB dan berakhir pada pukul 07.05 WIB. Setelah itu, para jemaah melanjutkan tradisi silaturahmi ke sesama anggota komunitas maupun masyarakat sekitar.
Pimpinan Islam Aboge di Magetan, Imam Mardi, menyebutkan bahwa jumlah penganut ajaran ini di daerah tersebut mencapai lebih dari 3.000 orang. Mereka tersebar di beberapa kecamatan, termasuk Takeran, Bendo, Nguntoronadi, dan Kawedanan. Meski jumlah mereka cukup banyak, mereka hidup berdampingan dengan masyarakat lainnya dengan tetap menjunjung tinggi nilai toleransi.
“Penganut Islam Aboge di sini berasal dari berbagai latar belakang profesi, termasuk kepala desa dan bahkan ada anggota kepolisian. Yang terpenting bagi kami adalah saling menghormati perbedaan,” kata Imam Mardi.
Islam Aboge merupakan salah satu tradisi keislaman yang masih bertahan di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Magetan. Dengan sistem penanggalan yang berbeda, mereka memiliki cara tersendiri dalam menentukan hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri. Kendati demikian, perbedaan ini tidak menghalangi mereka untuk tetap hidup harmonis bersama masyarakat lainnya.