finnews.id – Takaichi dari Jepang: Taruhan Karier yang Membuahkan Kemenangan Telak di Pemilu Sela 2026
Pada minggu (8 Februari 2026), sejarah politik Jepang kembali ditulis ketika perdana menteri perempuan pertama negara itu, Sanae Takaichi, meraih kemenangan telak dalam pemilihan umum sela. Kemenangan ini tidak datang secara kebetulan—ia adalah hasil dari taruhan politik yang berani, di mana Takaichi secara terbuka mempertaruhkan masa jabatan dirinya untuk memperkuat mandat bagi agenda konservatifnya.
Taruhan yang Berani: Mundur Jika Kalah
Hanya tiga bulan setelah dilantik sebagai PM pada Oktober 2025, Takaichi membuat gebrakan yang jarang terjadi dalam politik Jepang. Pada 26 Januari 2026, di tengah debat antar pemimpin partai, dia mengumumkan akan mengundurkan diri segera jika koalisi yang dipimpinnya (Partai Demokrat Liberal/LDP dan Partai Inovasi Jepang/JIP) gagal meraih lebih dari separuh kursi di Majelis Rendah.
Langkah ini berisiko besar. Pada waktu itu, LDP baru saja kehilangan sekutu lama mereka, Komeito (partai berbasis Buddha yang berhaluan moderat), yang memutus aliansi karena menilai LDP terlalu konservatif. Oposisi juga tergabung dalam aliansi “Reform Alliance” yang kuat, membuat kemenangan mayoritas tidak lagi sesuatu yang pasti. Survei juga menunjukkan penurunan dukungan publik terhadap kabinet Takaichi akibat kekhawatiran tentang biaya hidup dan kebijakan ekonomi.
Kemenangan Telak yang Membuat Terkejut
Namun, taruhan Takaichi membuahkan hasil melebihi harapan. Berdasarkan hasil hitung cepat media nasional Jepang (NHK), LDP sendiri memenangkan 316 kursi dari total 465 di Majelis Rendah—hasil terbaik dalam sejarah partai itu. Bersama mitra koalisi JIP yang meraih 36 kursi, koalisi Takaichi menguasai 352 kursi atau lebih dari dua pertiga parlemen (mayoritas super).
Kemenangan ini dicapai bahkan di tengah cuaca ekstrem: banyak wilayah Jepang dilanda salju lebat, namun warga tetap keluar untuk memberikan suara. Faktor kunci di balik kemenangan adalah karisma pribadi Takaichi yang dikenal blak-blakan dan pekerja keras, serta fenomena “Sana Mania” yang meluas di kalangan pemilih muda. Dukungan terbuka dari Presiden AS Donald Trump juga dipercaya memberikan dorongan tambahan.