FINNEWS.CO.ID – Ketegangan geopolitik dunia kembali memanas setelah perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Amerika Serikat dan Rusia, New START, resmi berakhir.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan memperpanjang kesepakatan lama tersebut. Ia justru mendorong negosiasi perjanjian baru yang dinilai lebih modern dan menguntungkan AS.
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui media sosial Truth Social pada Kamis, sehari setelah traktat nuklir tersebut habis masa berlakunya.
Trump menilai New START merupakan kesepakatan yang dinegosiasikan secara kurang optimal oleh pemerintahan AS sebelumnya.
“Daripada memperpanjang ‘NEW START’… kita seharusnya menugaskan para pakar nuklir untuk mengerjakan perjanjian baru yang lebih baik dan dimodernisasi, yang bisa bertahan lama di masa depan,” tulis Trump.
Ia menegaskan bahwa pendekatan baru diperlukan untuk menyesuaikan dinamika kekuatan militer global saat ini.
Sikap Trump berbeda dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Sebelumnya, Putin mengusulkan perpanjangan sukarela selama satu tahun atas pembatasan penempatan senjata nuklir strategis, dengan syarat Washington melakukan hal yang sama.
Namun tawaran tersebut ditolak oleh pemerintah AS.
Keputusan ini menutup peluang perpanjangan cepat terhadap satu-satunya pakta pengendalian nuklir yang tersisa di antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia.
Kremlin menyampaikan penyesalan atas berakhirnya New START.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan Rusia tetap akan mengedepankan stabilitas nuklir global.
Rusia akan melanjutkan “pendekatan yang bertanggung jawab dan menyeluruh terhadap stabilitas dalam hal senjata nuklir”, dengan tetap berpedoman pada kepentingan nasionalnya.
Meski begitu, tanpa kerangka perjanjian formal, transparansi dan verifikasi persenjataan menjadi jauh lebih terbatas.
Apa Itu Perjanjian New START?
New START (Strategic Arms Reduction Treaty) merupakan perjanjian pengurangan senjata nuklir yang mulai berlaku pada 2011.
Kesepakatan ini ditandatangani oleh: