finnews.id – Penyakit yang sulit disembuhkan secara medis sering kali menghadirkan tekanan berlapis bagi penderitanya. Selain rasa sakit fisik, kondisi ini memunculkan beban psikologis berupa kecemasan, keputusasaan, dan rasa takut akan masa depan. Dalam situasi seperti ini, banyak orang mencari pendekatan spiritual sebagai bagian dari ikhtiar menyeluruh.
Dalam Islam, dzikir menempati posisi sentral sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menenangkan hati. Bacaan dzikir untuk menyembuhkan penyakit yang sulit disembuhkan medis dipahami sebagai usaha batin yang berjalan seiring dengan pengobatan medis, bukan sebagai pengganti.
Pandangan ini tidak hanya bersumber dari teks keagamaan, tetapi juga memperoleh penguatan dari kajian ilmiah modern yang membahas hubungan antara pikiran, emosi, dan sistem kekebalan tubuh.
Konsep Penyembuhan Menurut Al-Qur’an
Islam memandang penyakit sebagai bagian dari ketentuan Allah yang mengandung hikmah. Al-Qur’an menegaskan bahwa kesembuhan sejati bersumber dari Allah. Dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 80 disebutkan, “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” Ayat ini menempatkan manusia pada posisi berikhtiar tanpa melepaskan tawakal.
Keterkaitan antara wahyu dan ilmu pengetahuan modern dibahas secara luas dalam kajian Maurice Bucaille, yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an kerap selaras dengan temuan ilmiah kontemporer. Dalam konteks kesehatan, penekanan Al-Qur’an pada ketenangan jiwa dan keyakinan batin memiliki relevansi kuat dengan pemahaman modern tentang peran psikologis dalam proses penyembuhan.
Dzikir sebagai Sarana Menenangkan Jiwa
Dzikir berarti mengingat Allah secara sadar dan berulang. Aktivitas ini bukan sekadar ritual verbal, melainkan proses mental yang mendalam. Al-Qur’an menyatakan bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang. Ketenangan ini memiliki dampak nyata pada kondisi tubuh.
Kajian dari Harvard Medical School mengenai efek meditasi menunjukkan bahwa praktik repetitif yang menenangkan pikiran mampu menurunkan tingkat stres dan memperbaiki fungsi sistem imun. Dzikir, yang memiliki pola pengulangan lafaz dan fokus batin, bekerja dengan mekanisme serupa. Ketika pikiran menjadi lebih tenang, tubuh keluar dari kondisi stres kronis yang selama ini dikenal sebagai faktor penghambat penyembuhan.