finnews.id – Unjuk rasa Iran meluas dan berkembang menjadi situasi darurat yang menekan sistem kesehatan negara tersebut. Laporan yang dihimpun oleh BBC menunjukkan bahwa sejumlah rumah sakit di berbagai kota, terutama di Tehran, menghadapi lonjakan pasien luka dan meninggal dalam waktu yang sangat singkat. Tenaga medis menyebut fasilitas kesehatan kewalahan menangani korban akibat bentrokan selama protes anti-pemerintah yang terus berlanjut lebih dari dua pekan.
Gelombang unjuk rasa ini bermula dari ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi, khususnya tekanan biaya hidup yang semakin berat. Namun, seiring waktu, protes menyebar ke lebih dari 100 kota dan wilayah di seluruh provinsi Iran. Skala penyebaran tersebut memperlihatkan bahwa ketegangan sosial tidak lagi terpusat di ibu kota, melainkan telah menjadi fenomena nasional yang berdampak luas, termasuk pada layanan publik vital seperti rumah sakit.
Rumah Sakit Dipenuhi Korban Luka dan Tewas
Sejumlah tenaga medis yang bekerja di rumah sakit Tehran menyampaikan bahwa mereka menerima korban dengan luka tembak serius. Seorang petugas medis menggambarkan adanya tembakan langsung ke kepala dan dada para korban, mayoritas berusia muda. Dalam kesaksiannya, ia menyebut banyak korban meninggal segera setelah tiba di ruang gawat darurat, bahkan sebelum sempat mendapatkan penanganan medis yang memadai.
Kondisi tersebut membuat ruang jenazah tidak mampu menampung jumlah korban. Dalam satu laporan, disebutkan bahwa mayat-mayat ditumpuk karena keterbatasan ruang, bahkan dipindahkan ke area lain setelah kamar jenazah penuh. Gambaran ini menunjukkan betapa beratnya tekanan yang dihadapi fasilitas kesehatan dalam waktu singkat, sebuah indikator jelas dari krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung.
Krisis Layanan Medis di Ibu Kota dan Daerah
Situasi darurat tidak hanya terjadi di rumah sakit umum. Seorang dokter melaporkan bahwa rumah sakit spesialis mata utama di Tehran memasuki mode krisis. Layanan non-darurat dan operasi elektif dihentikan sementara, sementara seluruh tenaga medis dipanggil untuk menangani kasus-kasus gawat darurat. Laporan ini sejalan dengan pola luka yang sering terjadi, yakni cedera pada mata akibat tembakan pelet yang biasa digunakan aparat keamanan dalam membubarkan massa.
Di luar Tehran, kondisi serupa dilaporkan di kota-kota lain. Dari Kashan di Iran tengah hingga Shiraz di wilayah barat daya, tenaga medis menyampaikan bahwa rumah sakit menerima banyak korban luka dalam waktu bersamaan. Beberapa fasilitas bahkan kekurangan ahli bedah untuk menangani seluruh pasien yang datang, sehingga prioritas diberikan hanya pada kasus paling kritis.