finnews.id – Dunia pertelevisian dan kewirausahaan Indonesia berduka.
Commercial Director Garuda TV sekaligus pengusaha sukses, Muliandy Nasution, meninggal dunia dalam sebuah insiden kecelakaan lalu lintas maut di wilayah Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pada Sabtu (10/1/2026).
Sosok Muliandy Nasution merupakan satu sosok yang luar biasa di mata publik terutama di mata Garuda TV sendiri.
Almarhum menghembuskan napas terakhir pada usia 42 tahun.
Kabar duka ini pertama kali disampaikan oleh akun resmi Instagram Garuda TV. Dalam pernyataan dukacitanya, Garuda TV menggambarkan Muliandy sebagai sosok profesional, energik, dan penuh semangat yang memiliki peran besar dalam pengembangan bisnis serta penguatan industri media nasional.
“Dengan ide-ide segar dan inovasi yang beliau bawa, almarhum menularkan energi positif dan semangat kerja kepada seluruh tim Garuda TV.
Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam,” tulis pernyataan itu, seraya mendoakan amal ibadah almarhum diterima dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
Ucapan belasungkawa juga mengalir dari Badan Pengurus Besar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), di mana almarhum tercatat sebagai anggota aktif.
Muliandy Nasution bukanlah nama baru di jagad bisnis Indonesia. Pria kelahiran 1983 ini memiliki jejak karier yang panjang dan penuh prestasi, jauh sebelum memimpin divisi komersial di Garuda TV – stasiun televisi digital nasional yang sebelumnya dikenal sebagai Digdaya TV dan terafiliasi dengan Presiden Prabowo Subianto.
Pendidikannya yang solid menjadi fondasi kariernya.
Gelar Muliandy
Muliandy memegang tiga gelar magister: MBA dari Jena Applied Science (Jerman), MM dari Swiss German University, dan Master of Law International Trade & Commercial dari Universitas Islam Jakarta.
Karier profesionalnya dimulai di perusahaan tambang ternama, Freeport, kemudian berlanjut ke Shell, sebelum akhirnya mencapai puncak di General Electric (GE) Indonesia.
Di usia yang terbilang sangat muda, 33 tahun, ia telah dipercaya menjabat sebagai direktur di konglomerasi raksasa asal Amerika Serikat tersebut.
Namun, hasrat membangun sesuatu dari nol membawanya pada keputusan berani. Pada 2018, di usia 35 tahun, Muliandy merintis Fath Capital, sebuah perusahaan financial advisory (penasihat keuangan). Keputusan ini lahir setelah ia menolak penugasan ke Singapura demi tidak meninggalkan keluarga.
“Akhirnya, saya mencoba bikin sendiri, yaitu Fath Capital ini,” ujarnya seperti pernah dikutip Majalah SWA.
Sebagai Managing Partner, Muliandy membimbing Fath Capital untuk memberikan jasa seperti restrukturisasi keuangan, merger & akuisisi, persiapan IPO, hingga menjadi perantara pendanaan.
Keahliannya dalam proyeksi keuangan dari masa di GE menjadi nilai tambah utama. Hingga kini, Fath Capital telah menangani 83 portofolio, dengan 50 di antaranya telah exit (berhasil dijual). Pendanaan terbesar yang pernah ia fasilitasi mencapai Rp 1,76 triliun di bidang energi terbarukan.
Muliandy tidak terlalu berfokus pada teknologi justru memilih konsentrasi pada sektor yang heavy human capital seperti fashion, konveksi, dan logistik.