Home Internasional Korea Selatan di Persimpangan Tiga Kekuatan Besar Asia Timur
Internasional

Korea Selatan di Persimpangan Tiga Kekuatan Besar Asia Timur

Bagikan
Korea Selatan, Image: Big_Heart / Pixabay
Bagikan

finnews.id – Korea Selatan berada pada posisi yang semakin rumit di tengah dinamika geopolitik Asia Timur yang terus bergerak cepat. Sebagai kekuatan ekonomi utama dan aktor keamanan penting di kawasan, negara ini harus menavigasi hubungan dengan tiga kekuatan besar yang kepentingannya sering kali saling bertabrakan, yakni China, Jepang, dan Amerika Serikat. Pertemuan antara Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dan Presiden China Xi Jinping menjadi simbol nyata dari upaya Seoul menjaga keseimbangan strategis tersebut.

Secara geografis dan historis, Korea Selatan berada di titik temu kepentingan regional. Kedekatan wilayah dengan China dan Jepang, ditambah aliansi militer jangka panjang dengan Amerika Serikat, menciptakan situasi di mana setiap keputusan diplomatik berpotensi berdampak luas. Dalam konteks ini, kunjungan Lee ke Beijing bukan sekadar agenda bilateral, melainkan refleksi dari strategi bertahan Korea Selatan di tengah rivalitas kekuatan besar.

China sebagai Mitra Ekonomi Vital dan Tantangan Strategis

China merupakan mitra dagang terbesar Korea Selatan selama lebih dari satu dekade. Ketergantungan sektor manufaktur, teknologi, dan ekspor Korea Selatan terhadap pasar China menjadikan stabilitas hubungan ekonomi sebagai prioritas utama. Para analis menilai bahwa upaya Lee Jae Myung memperbaiki hubungan dengan Beijing berangkat dari kebutuhan praktis untuk memastikan kerja sama ekonomi tidak terpengaruh oleh ketegangan politik regional.

Namun, hubungan tersebut tidak lepas dari tantangan. China dan Korea Selatan memiliki perbedaan kepentingan dalam isu keamanan regional, terutama terkait Taiwan dan penempatan sistem pertahanan rudal Amerika Serikat di Semenanjung Korea. Beijing secara konsisten memandang langkah-langkah pertahanan yang melibatkan AS sebagai ancaman terhadap kepentingan militernya. Situasi ini memaksa Seoul untuk bersikap hati-hati agar tidak memicu reaksi keras dari China, tanpa mengorbankan kepentingan keamanannya sendiri.

Jepang, Isu Sejarah, dan Kompleksitas Keamanan Regional

Di sisi lain, hubungan Korea Selatan dengan Jepang masih dibayangi oleh persoalan sejarah yang belum sepenuhnya tuntas. Sengketa terkait masa penjajahan Jepang pada abad ke-20 terus memengaruhi hubungan diplomatik kedua negara. Meski demikian, kepentingan keamanan bersama menghadapi ancaman regional, termasuk program nuklir Korea Utara, mendorong Seoul dan Tokyo untuk tetap membuka jalur kerja sama.

Ketegangan terbaru antara China dan Jepang terkait Taiwan menempatkan Korea Selatan dalam posisi sulit. Sebagai negara yang menghormati kebijakan Satu China, Seoul tetap harus mempertimbangkan stabilitas regional dan hubungan dengan Jepang sebagai tetangga dekat serta mitra ekonomi dan keamanan. Dalam konteks ini, Korea Selatan berusaha menghindari posisi yang terlalu berpihak, sambil menjaga komunikasi aktif dengan kedua negara.

Bagikan
Artikel Terkait
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.
Internasional

Zelenskyy: Pembicaraan Lanjutan Ukraina dan AS Akan Bahas ‘Isu-isu Paling Sulit’

finnews.id – Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengatakan, pembicaraan lebih lanjut antara tim...

Internasional

PBB Tuduh Israel Terapkan ‘Apartheid’ di Tepi Barat

finnews.id – PBB menyatakan diskriminasi dan segregasi terhadap warga Palestina oleh Israel...

Internasional

AS Sita Kapal Tanker Berbendera Rusia yang Terkait dengan Venezuela

finnews.id – Amerika Serikat (AS) menyita sebuah kapal tanker minyak berbendera Rusia...

Panglima militer Iran, Jenderal Amir Hatami.
Internasional

Panglima Militer Iran Akan Balas Ancaman Trump dan Netanyahu

finnews.id – Panglima militer Iran, Jenderal Amir Hatami menegaskan, Iran tidak akan...