finnews.id – Dugaan praktik percaloan mencuat lewat pengakuan seorang warga Takalar, Sulawesi Selatan, yang merasa menjadi korban permainan kotor oknum yang menjanjikan kelulusan menjadi calon siswa Polri.
Sebab, jumlah uang yang di sebutkan tak main-main—hingga menyentuh angka Rp550 juta. Dan yang lebih mengagetkan, transaksi itu di duga terjadi di rumah seorang jenderal di wilayah Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Kepada awak media, seorang narasumber berinisial HR mengungkapkan bahwa keluarganya terlibat dalam pengurusan masuk Polri tahun 2022 lalu. Ia menyebutkan bahwa untuk bisa meloloskan seorang calon siswa Polri, di butuhkan dana sebesar Rp550 juta, dengan panjar awal Rp200 juta sebagai tanda jadi. Panjar itu, katanya, di bayarkan dalam dua tahap—Rp150 juta di Bontonompo dan Rp50 juta lagi di Galesong, Takalar.
“Dirmhnya itu p. jendral dibontonompo, Gowa… waktu ambilki lagi uang 50 juta dibelakang Hj. Lina,” ucap HR.
Namun, HR tak menyebutkan siapa nama jenderal yang di maksud, meski lokasi dan waktu transaksi di sebutkan secara spesifik. Ia juga menjelaskan bahwa dalam perjanjian awal, apabila calon siswa tidak lulus, uang panjar akan di kembalikan.
Sayangnya, kenyataan tidak seindah janji. Setelah upaya tersebut gagal dan calon tidak di nyatakan lulus, uang panjar Rp200 juta tidak kunjung di kembalikan. HR pun mengaku telah melaporkan kasus ini ke Polres Takalar dan Polda Sulsel sejak September 2024, namun hingga kini belum ada kejelasan terkait pengembalian dana tersebut.
“Saya sudah sering sekali dijanji uang itu dikembalikan, itupun saya sudah laporkan, masih belum dikembalikan,” jelas HR.
Kasus ini semakin ramai di perbincangkan karena mencerminkan sebuah praktik lama yang terus membayangi proses rekrutmen di lembaga yang seharusnya menjunjung tinggi integritas dan transparansi.
Menanti Kejelasan dan Penegakan Hukum
Kasus viral calo calon siswa Polri ini seakan membuka kembali luka lama. Masyarakat berharap, aparat penegak hukum dapat mengambil langkah tegas agar praktik serupa tidak lagi terjadi. Kepercayaan terhadap institusi kepolisian di pertaruhkan—dan hanya dengan transparansi serta ketegasanlah citra itu bisa di pulihkan.
Untuk keluarga korban seperti HR, lebih dari sekadar uang yang hilang, ada harapan dan kepercayaan yang di khianati. Semoga keadilan segera datang, dan kebenaran terungkap tanpa ada yang di tutup-tutupi.