Dari surat itu kelak akan jelas apa yang terjadi sebenarnya. Tapi, meski masih junior, Icha tergolong sudah kuat dalam memegang teguh kode etik profesi dokter.
Salah satu unsur terpenting yang membuat dokter itu sebuah profesi –bukan pekerjaan– adalah otonomi.
Dokter memiliki otonomi untuk melakukan atau tidak melakukan. Mereka harus melakukan tindakan medis biar pun ditekan orang lain untuk tidak melakukan. Sebaliknya dokter tidak akan mau melakukan biar pun ditekan agar melakukan. Pun bila itu taruhannya jabatan. Bahkan nyawa.
Dokter Icha –Eliza Princila Utami Pakaenoni– mempertaruhkan profesinya sampai ke nyawa. Dokter Icha, di mata saya, adalah pahlawan profesi. Banyak profesi lain tidak lagi punya pahlawan.
—
Di dunia wartawan kian sulit mencari pahlawan profesi kewartawanan seperti Icha di kedokteran. Pun di profesi pengacara. Juga di profesi hakim bukan?
Apalagi si anak yang digigit ular itu akhirnya benar-benar sembuh.
Tentu saya harus menghubungi dua anggota DPRD itu. Tapi tidak berhasil mendapatkan nomor kontak mereka.
Saya baca di berita online, keduanya membantah telah melakukan tekanan. Memang keduanya mengakui bicara keras kepada Icha tapi tidak ada maksud menekan.
Keduanya juga sudah minta maaf. Keluarga Icha sendiri tidak memperkarakan itu. Bahkan tidak mau jenazah Icha diotopsi.
Tapi latar belakang peristiwa ini harus jelas.
Semua berita duka itu seperti mempersingkat perjalanan darat saya yang lima jam. Pukul 21.01 saya tiba di hotel di down town Buffalo: matahari belum juga tenggelam. Tapi bulan purnama sudah tampak menor di ufuk barat. Indah. Romantis. Gabungan antara matahari senja dan bulan purnama.
Pun di Buffalo, matahari ternyata tenggelamnya juga di barat. (Dahlan Iskan)