Catatan Dahlan Iskan

Amang Amat

Catatan Dahlan Iskan

Bagikan
Bagikan

Ternyata itu hanya di tulisan. Kenyataannya pesawat saya ini terbangnya ke Saiyun. Seumur hidup saya belum pernah mendengar nama kota Saiyun. Kota Saiyun sangat dekat ke pusat Habib di Tarim: 40 km.

 

Bagi saya pesawat jurusan Aden tapi mendaratnya di Saiyun tidak masalah. Ke mana pun terbangnya saya ikut. Yang penting masih di Yaman. Kan saya belum pernah ke Yaman sama sekali.

 

Jarak Saiyun ke Aden ternyata begitu jauhnya: satu jam penerbangan sendiri. Tapi kan tidak ada penerbangan ke sana. Kalau jalan darat bisa 24 jam. Dan lagi keadaan tidak aman. Tidak akan ada izin bagi orang asing seperti saya jalan darat dari Tarim ke Aden. Maka pupuslah harapan bisa ke Aden atau San’aa.

 

Sebagai gantinya saya ke Mukalla. Ini saja saya harus berbekal surat jalan. Teman saya, si Amang, sahabat Disway itu, yang menguruskannya. Tanpa surat itu saya tidak mungkin sampai Mukalla. Terlalu banyak pos pemeriksaan di sepanjang jalan. Pos tentara bersenjata. Memeriksa surat-surat identitas penumpang.

 

Amang adalah anak muda asli Hadramaut yang bisa berbahasa Indonesia. Nama aslinya Abdurrahman. Pernah kuliah di Surabaya. Tidak menyangka saat tiba di Tarim saya bisa bertemu orang asli yang kuliahnya di Surabaya.

 

Sejak di Surabaya itu panggilannya menjadi Amang. Orang Surabaya memang suka mengubah nama orang. Apalagi kalau nama itu sulit diucapkan.

 

Abdurrahman ternyata suka dengan nama panggilan Amang itu.

 

“Amang biasanya panggilan nama orang Makassar untuk Abdurrahman. Itu bukan nama panggilan di Jawa atau Surabaya,” kata saya.

 

Di Makassar Abdurrahman bisa berubah menjadi Bedu Amang –seperti nama tokoh yang pernah menjabat kepala Bulog di masa Orde Baru

 

“Betul. Orang pertama yang memanggil saya Amang adalah orang Arab Ampel asal Makassar,” katanya. “Kalau di Jawa Abdurrahman jadi apa?” tanyanya.

 

“Jadi Dur,” kata saya. “Misalnya, Gus Dur. Dari Abdurrahman Wahid”.

“Kalau Muhammad jadi Amat?”

“Bukan. Amat itu dari Ahmad”.

Tanda bahwa ia senang dengan nama panggilan Amang terbukti nama itu ia pakai biar pun sudah kembali menetap di Tarim. Nama statusnya di HP pun Amang.

Bagikan
Artikel Terkait
Catatan Dahlan Iskan

Lumbung Komisi

  “Saya baru datang dari Makkah tadi malam,” ujar Pak Mukri.  ...

Catatan Dahlan Iskan

Daftar Keinginan

Pun perundingan sebelum serangan IsAm ke Iran: banyak hal sudah disepakati. Tapi...

Catatan Dahlan Iskan

Mati Efisiensi

Tiap hari para dandim terikat ketat: ikut evaluasi lewat zoom dengan PT...

Catatan Dahlan Iskan

Lebaran Rezeki

Tidak tanggung-tanggung istri saya menyiapkan rawon: 6 kg. Masih ada menu tambahan:...