Tim Joao-lah yang menjalankan Koperasi Merah Putih itu. Semuanya. Se-Indonesia. Targetnya: selama dua tahun. Setelah itu diserahkan ke pengurus koperasi di desa-desa dan kelurahan.
Joao saya beri gelar petir karena langkahnya yang serba mengejutkan. Mulai dari saat ia memutuskan mundur dari jabatan dirut Agrinas sampai saat ia melakukan pembelian 105.000 mobil dari India. Bahkan saat ia mengatakan uang mukanya sudah dibayar. Ia pernah minta mundur karena merasa keputusan untuk Agrinas Pangan sangat lambat. Setelah ia tidak jadi mundur langkahnya secepat petir.
Saya pun bertanya: apakah tidak khawatir mobil yang dibeli sudah tiba padahal koperasinya belum jalan.
Ternyata mobil-mobil itu –dua mobil dan dua sepeda motor roda tiga untuk tiap satu koperasi– akan disimpan dulu di Makodim. Aman. Kodim bertugas menjaganya.
Melihat ketatnya evaluasi program ini saya menarik kesimpulan: nama TNI dipertaruhkan di program ini. Saya bayangkan: kalau saja Merah Putih jalan lebih dulu, lalu disusul MBG, alangkah hebatnya. Sekaligus koperasi Merah Putih bisa jadi penanggung jawab MBG. Termasuk pengadaan materi MBG-nya.
Yang juga saya diskusikan adalah bagaimana prinsip efisiensi bisa ditegakkan. Apakah Merah Putih nanti bisa seefisien Alfamart atau Indomaret. Di situlah kunci sukses keduanya.
Efisiensi di dunia bisnis adalah segala-galanya. Efisiensi adalah hidup atau mati. Efisien atau mati! (Dahlan Iskan).