finnews.id – Menjadi pengacara merupakan salah satu karir yang diimpikan.
Contohnya saja, pengacara kondang Hotman Paris Hutapea adalah seorang pengacara, pewara, dan pebisnis Indonesia. Ia dikenal karena gayanya yang flamboyan, klien-klien ternama, dan gaya hidupnya yang glamor.
Namun sadarkah Anda, bahwa pengacara handal tidak hanya digeluti oleh kaum pria melainkan juga wanita.
Salah satu sosok pengacara wanita, yang juga menggeluti dunia hukum mulai dari titik nol adalah Dian Christina S.H.
Seperti yang dikutip Redaksi dari penjabaran di akun instagram @law.dianchristina mengungkapkan bahwa sejarah karirnya di dunia pengacara dimulai dari titik nol.
Titik nol yang dimaksud adalah di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dimana di sana ia tidak berkeinginan mencari kemewahan.
Melainkan mencari kebenaran.
Klien yang ia peroleh di sana berdatangan dengan air mata dan harapan yang menggantung. Ia berada di garis depan tanpa bayaran.
Ia menerangkan, saat itu apa dan siapa dirinya bukanlah sebuah PEKERJAAN melainkan sebuah JANJI.
JANJI untuk belajar dari penderitaan yang paling nyata.
JANJI bahwa setiap berkas yang ia tangani juga adalah INVESTASI JAM TERBANG yang harganya tak ternilai.
Di sinilah cikal bakal seorang pembela keadilan dibentuk.
Dunia Hukum seringkali terlihat dingin dan penuh dengan pasal.
Tapi bagi Dian, di LBH ia belajar bahwa kasus yang paling rumit adalah kasus yang melibatkan hati manusia.
Hamba Hukum dipaksa menyeimbangkan 2 hal yang bertentangan. LOGIKA HUKUM yang kaku dan PERASAAN KLIEN yang rapuh. Menganalisa pasal demi pasal. Sambil menenangkan tangisan orang tua yang kehilangan.
Menghafal Yurisprudensi sambil merasakan denyut nadi ketidakadilan.
Perjuangan ini mengasah Dian, ia tak hanya sebagai PENASIHAT HUKUM tapi juga Penyeimbang, Mediator antara KEBENARAN di atas kertas dan kebenaran yang dirasakan.
JAM TERBANG meskipun TAK DIGAJI
Dian mengungkapkan bahwa di LBH dirinya mendapatkan kesempatan berharga yang tidak dijual di bangku kuliah yaitu PENGALAMAN NYATA.