Saat ini memang terlalu banyak yang harus ditangani Arab Saudi. Gedung tertinggi di dunia, di Jeddah, akan diteruskan. Kali ini saya tidak mampir ke proyek itu. Baru kurang dari tiga bulan lalu saya ke sana.
Harga minyak mentah memang sudah di level 100 dolar per barel. Tapi itu akibat Selat Hormuz ditutup Iran. Sebelum perang harga minyak tidak lagi setinggi saat ide Neom diluncurkan. Dari 100 dolar per barel saat itu menjadi antara 60 sampai 70 dolar. Setelah perang selesai akan kembali turun.
Sebenarnya Saudi tidak mau Amerika Serikat menyerang Iran. Negara mullah itu bisa memainkan jurus mabuk: meluncurkan roket ke berbagai instalasi minyak Saudi –sahabat Amerika. Instalasi minyak Saudi begitu dekat dari Iran dalam jangkauan persenjataannya.
Kalau pun akibat serangan Amerika itu harga minyak naik bukan Neom yang menikmatinya: Venezuela.
Saudi takut perang di Iran meletus dan kini terjadi. Bahkan menyerang Houti di Yaman Utara pun Saudi tidak mau lagi. Yakni sejak Houti mengirim rudal kecil-kecilan ke salah satu instalasi minyaknya.
Banyak ”Program Saudi 2030” yang berhasil dicapai. Tapi Neom kelihatannya perlu banyak revisi. Tiap tahun perkiraan biayanya naik terus. Pengerjaan proyek lebih sulit dari rencana awal.
Pernah dipublikasikan anggaran awalnya USD 500 miliar. Enteng bagi Saudi. Tapi tiap tahun anggaran itu naik. Perubahan di tahun lalu sudah mencapai USD 8 triliun.
Pun konsultan Amerika-Eropa tidak kuat membuat perencanaan anggaran yang mendekati kenyataan.
Memang sulit membuat perencanaan jangka panjang sekarang ini. Pun para ahli dan ilmuwan perencanaan. Dunia berubah begitu cepat. Pun teknologi. Masa depan begitu cepat berubah menjadi masa lalu.
Kini hanya dukun yang berani meramal apa yang akan terjadi lima tahun ke depan.(Dahlan Iskan)