Kedua katarsis kolektif ini dilakukan sehari menjelang Nyepi.
Secara simbolik, pengarakan ogoh-ogoh saat ritual pangerupukan adalah peluapan energi kolektif yang total.
Manusia butuh berteriak sebelum bisa diam (somya).
Manusia butuh mengekspresikan ”monster” di dalam diri sebelum akhirnya membakarnya habis (somya).
Ngerupuk adalah pembersihan drastis, sebuah upaya pengosongan spirit agar manusia siap keesokan harinya untuk menerima kesunyian (sunya).
Literasi Nyepi dan segenap rangkaiannya disosialisasikan di sekolah-sekolah dasar lewat kegiatan ekstrakurikuler pawai mini ogoh-ogoh.
Tujuannya tidak saja untuk pelestarian adat dan budaya, tetapi juga menyiapkan anak-anak sejak dini untuk memahami makna dan mendukung kekhusyukan hening Nyepi.
Hari Suci Nyepi dalam proses triadik ramya, somya, dan sunya dalam tafsir kekinian bisa dilihat sebagai inspirasi untuk menata ulang atau reset tombol kehidupan manusia di tiga dunia: mikrokosmos, makrokosmos, dan virtualkosmos.
Kemajuan radikal dunia digital, selain memudahkan berbagai pekerjaan, juga menimbulkan disrupsi teknologi dan kemanusiaan.
Banyak kebohongan adalah salah satu contoh, FOMO adalah virus gawat lainnya.
Ketagihan bersosial media menjadi racun (toxic) adalah ancaman yang tak kalah gawat dari virtualkosmos.
Dengan memenuhi godaan untuk meng-update diri dari tsunami informasi untuk menghilangkan rasa takut ketinggalan, tanpa sadar diri ini terus mengonsumsi dopamin (neurotransmitter) instan yang ditawarkan notifikasi media sosial, jumlah like, click-byte.
Semua itu disadari atau tidak bukanlah validasi sejati akan kebahagiaan, melainkan penuh dengan virus kesemuan.