Hampir sekitar 400 kepala keluarga umat Hindu di kota ini akan menjalankan empat pantangan utama pada Kamis (19/3/2026), amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).
“Rangkaian Nyepi di Kota Malang berhasil ditransformasikan dari sekadar peristiwa spiritual umat Hindu menjadi momentum refleksi kolektif seluruh warga kota,” pungkas Wahyu.
Perayaan ini mengingatkan semua pihak tentang pentingnya menjaga keseimbangan yang multidimensi, baik dengan alam, dengan diri sendiri, maupun dengan sesama manusia dalam bingkai toleransi dan penghormatan.