finnews.id – Waduk Jatiluhur (Bendungan Ir. H. Djuanda) di Purwakarta tetap menjadi waduk terbesar di Indonesia dengan luas mencapai 8.300 hektar.
Berikut adalah isu Waduk Jatiluhur terkini per Februari 2026:
Kondisi Keamanan & Lingkungan
- Mitigasi Risiko: Komisi V DPR RI baru-baru ini menyoroti kesiapan struktur bendungan yang sudah berusia lebih dari 50 tahun untuk memastikan mitigasi risiko berjalan maksimal.
- Kebersihan: Pada 28 Februari 2026, Sat Polairud Polres Purwakarta melaksanakan program Sapu Bersih Sampah untuk menjaga kelestarian lingkungan waduk.
- Fenomena Alam: Pada Januari 2026, sempat dilaporkan adanya kematian massal ikan.
Waduk Jatiluhur, atau secara resmi bernama Bendungan Ir. H. Djuanda, adalah bendungan serbaguna terbesar di Indonesia yang terletak di Purwakarta, Jawa Barat.
Dibangun mulai tahun 1957 dan diresmikan pada 26 Agustus 1967 oleh Soeharto, proyek ini diprakarsai Presiden Soekarno untuk irigasi, PLTA (187,5 MW), dan pengendalian banjir.
Berikut adalah poin-poin penting sejarah Waduk Jatiluhur:
- Pembangunan & Pembiayaan: Konstruksi dimulai tahun 1957 dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Soekarno. Proyek ini dikerjakan oleh kontraktor Prancis (Compagnie Française d’Entreprises) dengan dana pinjaman luar negeri.
- Tokoh Penting: Dinamai Ir. H. Djuanda sebagai bentuk penghormatan kepada Perdana Menteri Indonesia ke-10 yang memperjuangkan pendanaan proyek ini.
- Dampak Sosial: Pembangunan waduk menenggelamkan 14 desa, memaksa lebih dari 5.000 penduduk dipindahkan ke area sekitar dan ke Karawang.
- Fungsi Utama: Membendung Sungai Citarum untuk mengairi sawah seluas 242.000 hektar (dua kali tanam setahun), menghasilkan listrik (PLTA), bahan baku air minum, dan pariwisata.
- Pengelolaan: Dikelola oleh Perum Jasa Tirta II (sebelumnya bernama PN Jatiluhur dan Perum Otorita Jatiluhur).