Saya memuji perubahan BUMN Karya menjadi PT Agrinas Pangan Nusantara. Harus ada BUMN pangan yang besar dan kuat. Toh masih ada empat BUMN Karya lainnya. Yang besar-besar. Adhi Karya, Wijaya Karya, Hutama Karya, dan PP.
Pujian itu kini menjadi ujian bagi saya. Dan saya tidak lulus. Ternyata saya salah. Tahu bahwa itu salah baru dua hari lalu.
PT Agrinas Pangan Nusantara ternyata tidak hanya menjadi jelmaan Yodya Karya. Ternyata ada satu yayasan yang ikut melebur ke dalamnya. Yakni salah satu yayasan di bawah Kementerian Pertahanan.
Saya bukan saja tidak lulus. Saya ternyata juga kuper: belum pernah mendengar ada satu perusahaan hasil merger antara PT dan yayasan.
Maka saya pikir ulang: mungkin bentuknya bukan merger. Mungkin saja yayasan itu ingin membubarkan diri. Lalu menghibahkan seluruh asetnya ke PT Agrinas Pangan Nusantara.
Anda sudah tahu: yayasan itu kalau bubar (atau dibubarkan) memang tidak boleh membagi kekayaannya ke pengurus, anggota, atau ke swasta. Kekayaan itu harus diserahkan ke negara.
Mungkin Agrinas Pangan Nusantara dianggap memenuhi syarat mewakili negara. Toh perushaan itu 100 persen milik negara.
Rasanya itu jalan yang baik. Di masa lalu banyak angkatan memiliki yayasan bisnis. Sejak reformasi yang seperti itu tidak boleh lagi. Tapi bahwa jalan keluarnya lewat penyatuan ke perusahaan milik negara baru dengar sekali ini.
Setelah diangkat menjadi dirut PT Agrinas Pengan Nusantara, Joao mengirim rencana kerja ke Danantara. Saya tidak tahu apa saja rencana kerjanya. Tahu-tahu tersiar berita besar: Joao mengundurkan diri. Ia merasa tidak amanah. Tidak bertanggung jawab. Menjadi dirut tidak kerja apa-apa. Sudah enam bulan menganggur. Tidak ada rencana kerja yang sudah disetujui. Ia pilih mundur.
Bahwa ia secara terbuka mengumumkan sikapnya itu, mungkin karena ia merasa itulah satu-satunya cara curhat ke Presiden Prabowo. Tentu ia ingin mengadukan nasibnya itu langsung ke Prabowo. Ia mungkin tidak menemukan jalan menuju istana. Juga tidak etis, masak dirut anak perusahaan menghadap presiden. Kan bisa secara pribadi? Mungkin ia juga tidak menemukan jalan menuju Hambalang.