finnews.id – Selebgram Tiara Kartika Dikaitkan Dugaan Video Call Pribadi, Warganet Diminta Waspada Jebakan Digital
Selebgram dan kreator konten TikTok Tiara Kartika menjadi sorotan publik sejak pertengahan Februari 2026 setelah beredar dugaan kebocoran rekaman video call pribadi (VCS) yang dikaitkan dengan dirinya. Fenomena ini memicu lonjakan pencarian masif di kalangan warganet, meskipun keaslian video tersebut masih belum dapat dipastikan dan berpotensi menjadi celah kejahatan siber.
Detail Video dan Penyebaran
Video yang disebut-sebut sebagai “blunder VCS” Tiara Kartika diklaim memiliki durasi sekitar 8 menit, bahkan ada yang menyebut 8 menit 21 detik, dengan beberapa potongan yang lebih pendek juga beredar. Rumor ini mulai meledak sekitar 18 Februari 2026, dengan cuplikan video menyebar cepat di TikTok dan X (sebelumnya Twitter), membuat tagar terkait mencapai jutaan tampilan dalam waktu singkat.
Menurut informasi yang beredar, video tersebut menampilkan seorang wanita yang diduga Tiara Kartika tengah melakukan panggilan video dengan seorang pria, dengan adegan intim di dalamnya. Namun, hingga saat ini, belum ada bukti konkret yang memverifikasi keaslian video tersebut, dan pihak Tiara Kartika sendiri juga belum memberikan pernyataan resmi atau klarifikasi terkait rumor yang beredar luas.
Ancaman Jebakan Digital dan Risiko Hukum
Tingginya rasa penasaran publik terhadap video ini telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan jebakan digital. Banyak tautan yang mengklaim sebagai “video lengkap” ternyata adalah modus phishing yang bertujuan mencuri data pribadi seperti email, kata sandi, atau informasi perbankan. Selain itu, beberapa tautan juga disinyalir menyebarkan malware, virus, atau ransomware yang dapat merusak perangkat pengguna. Ada pula penawaran akses grup Telegram berbayar dengan iming-iming video lengkap yang berujung pada penipuan.
Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Siberkreasi mengingatkan masyarakat agar tidak mengklik tautan mencurigakan yang mengatasnamakan video sensitif dan memanfaatkan fitur pelaporan pada masing-masing platform. Publik juga diharapkan tidak mudah terpancing isu yang belum terkonfirmasi kebenarannya serta tetap mengedepankan etika dalam bermedia sosial, karena isu semacam ini tidak hanya berisiko terhadap keamanan digital pengguna tetapi juga dapat merugikan pihak yang namanya dikaitkan.