finnews.id – Setidaknya 10 orang tewas dan 50 luka-luka dalam serangan Israel di Lembah Bekaa, Lebanon, menurut dua sumber keamanan kepada Reuters, Jumat, 20 Februari 2026.
Serangan ini termasuk yang paling mematikan yang dilaporkan di Lebanon timur dalam beberapa pekan terakhir.
Militer Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka menyerang pusat komando Hizbullah di daerah Baalbek, bagian dari Lembah Bekaa di Lebanon timur.
“Kami telah menghilangkan beberapa teroris dari jaringan rudal Hizbullah di tiga pusat komando berbeda, yang baru-baru ini diidentifikasi beroperasi untuk mempercepat kesiapan organisasi dan proses pembangunan kekuatan, sambil merencanakan serangan tembakan ke arah Israel,” sebut pernyataan militer Israel, Sabtu, 21 Februari 2026.
Seorang pejabat senior Hizbullah termasuk di antara korban tewas, kata sumber keamanan. Hingga kini, tidak ada komentar langsung dari Hizbullah.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Israel dan Hizbullah menyepakati gencatan senjata yang dimediasi AS pada tahun 2024 yang bertujuan untuk mengakhiri lebih dari setahun baku tembak lintas perbatasan yang berpuncak pada serangan Israel yang melemahkan kelompok yang bersekutu dengan Iran tersebut.
Sejak itu, kedua pihak saling tuding melanggar gencatan senjata.
Para pejabat AS dan Israel telah mendesak otoritas Lebanon untuk membatasi persenjataan Hizbullah, sementara para pemimpin Lebanon telah memperingatkan bahwa serangan Israel yang lebih luas dapat semakin menggoyahkan negara yang sudah terpuruk akibat krisis politik dan ekonomi.
Secara terpisah, militer Israel mengatakan mereka juga menyerang apa yang mereka sebut sebagai pusat komando Hamas tempat para militan beroperasi di daerah Ain al-Hilweh di Lebanon selatan. Ain al-Hilweh adalah kamp pengungsi Palestina yang padat di dekat Sidon.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengutuk serangan Israel semalam di wilayah Sidon dan kota-kota di Bekaa sebagai “pelanggaran baru” terhadap kedaulatan Lebanon dan pelanggaran kewajiban PBB.
Ia mendesak negara-negara yang mendukung stabilitas regional, termasuk Amerika Serikat, untuk mendesak penghentian segera guna mencegah eskalasi lebih lanjut, kata kepresidenan.