Saya keliling ke ibu kota baru itu. Sayang: lagi ada badai gurun. Udara tertutup debu. Jarak pandang sangat minim.
Saya memelototi IKN Mesir ini di balik bayang-bayang debu. Gerbang istana presidennya sendiri dibuat seperti kerajaan Mesir kuno di Luxor –750 km di hulu sungai Nil. Tapi bangunan istananya jauh di dalam sana. Tidak kelihatan. Belum sepenuhnya jadi.
Di depan gerbang istana itu jalan rayanya lurus. Super lebar. Sengaja. Bisa untuk arena parade militer di hari kemerdekaan.
Di seberang gerbang istana itu ada panggung upacara. Tamu VVIP duduk di sini saat menyaksikan parade. Bisa melihat parade sekaligus melihat istana di kejauhan sana.
Kesan saya: bagian itu mirip kawasan Tian An Men di Beijing. Jalan super lebar itu mirip jalan Chang An Jie –jalan terlebar di Beijing. Yakni tempat parade militer setiap ulang tahun Tiongkok.
Lokasi istana itu seperti posisi lapangan Tian An Men. Sedang bangunan VVIP itu ibarat Kugong –Istana Terlarang. Presiden Prabowo duduk di situ saat menyaksikan parade militer terbesar Tiongkok tahun lalu.
Kesan saya: kawasan Tian An Men seperti dipindah ke New Capital Kairo.
Memang awalnya seluruh ibu kota baru Mesir akan dibangun Tiongkok. Tapi akhirnya Tiongkok ”hanya” membangun satu bagiannya: kawasan CBD-nya. Di kawasan ini berdiri gedung tertinggi di seluruh Afrika. Saat saya ke sana bangunannya sudah menjulang seperti menuding langit. Bangunan-bangunan tinggi lainnya juga sudah hampir selesai.
Kalau datang dari arah Kairo Anda akan melewati kawasan CBD itu dulu. Lalu terlihat masjid terbesar. Indah. Sudah jadi. Sudah berfungsi. Diberi nama Al Fattah Al Aleem: diambil dari nama depan presiden Mesir sendiri.
Sebelum sampai kawasan pusat pemerintahan masih harus melewati kawasan terbuka. Taman. Lapangan golf.
Setelah itu barulah memasuki kawasan perumahan pegawai negeri. Lalu kawasan kementerian.
Semua bangunan tinggi perumahan pegawai sudah jadi. Pun gedung-gedung kementerian. Sudah berfungsi. Semua menteri dan pegawai negeri sudah berkantor di ibu kota baru.