finnews.id – Iran dan Amerika Serikat (AS) mencapai kesepahaman tentang “prinsip-prinsip panduan” utama dalam putaran kedua pembicaraan tidak langsung mengenai sengketa nuklir mereka, Selasa, 17 Februari 2026.
Namun, menurut Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, tidak berarti kesepakatan akan segera tercapai.
“Berbagai ide telah diajukan, ide-ide ini telah dibahas secara serius, pada akhirnya kami dapat mencapai kesepakatan umum tentang beberapa prinsip panduan, mulai sekarang kami akan bergerak berdasarkan prinsip-prinsip tersebut dan memasukkan teks perjanjian potensial,” kata Araqchi kepada media Iran setelah pembicaraan berakhir di Jenewa.
“Setelah pertukaran dokumen, kedua pihak akan memutuskan tanggal untuk putaran ketiga negosiasi,” lanjutnya.
Berbicara pada konferensi perlucutan senjata di Jenewa setelah pembicaraan tersebut, Araqchi mengatakan, bahwa “jendela peluang baru” telah terbuka.
Ia juga berharap pembicaraan akan mengarah pada solusi “berkelanjutan” yang memastikan pengakuan penuh atas hak-hak sah Iran.
Keterlibatan Tidak Langsung Trump
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan, dirinya akan terlibat “secara tidak langsung” dalam pembicaraan Jenewa. Trump juga mengaku bahwa ia percaya Teheran ingin mencapai kesepakatan.
AS sendiri telah mengirim pasukan tempur ke Timur Tengah untuk menekan Teheran agar membuat konsesi dalam sengketa nuklir yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
“Saya rasa mereka tidak ingin menanggung konsekuensi jika tidak mencapai kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One pada hari Senin.
“Kita bisa saja mencapai kesepakatan daripada mengirimkan B-2 untuk melumpuhkan potensi nuklir mereka. Dan kita terpaksa mengirimkan B-2,” lanjutnya.
Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa Iran akan menutup sementara sebagian Selat Hormuz, jalur pasokan minyak global yang vital, saat mengadakan pembicaraan mengenai program nuklirnya.