Saya memang bertemu dengan para pengurus PPI di Tarim. Makan malam bersama. Bahkan di hari lain saya diundang ke forum mahasiswa Indonesia yang lebih besar.
Mahasiswa itu bercerita tentang yang terjadi di satu pengajian. Anak kecil membagikan selebaran kertas berisi doa. Ia menerima selebaran itu dengan tangan kiri. Anak kecil itu menarik kembali selebaran itu dari tangannya. Lalu menunjuk tangan kanannya.
Demikian juga soal siwak. Para guru selalu menggosok gigi dengan potongan kayu siwak. Setiap saat. Pun di depan kelas. Suatu saat guru mengajarkan ilmu tentang keutamaan siwak.
Keesokan harinya sang guru bertanya kepada murid: siapa yang hari itu sudah mengantongi siwak di saku. Ketika mendapatkan belum ada murid yang membawa siwak, pelajaran tidak dilanjutkan. “Untuk apa sudah belajar keutamaan siwak tapi kalian tidak menerapkan ilmu itu,” kata sang guru.
Saya pun ingat kejadian memalukan siang sebelumnya. Saya ziarah ke masjid tua di Tarim. Umurnya ratusan tahun. Masjid Mehdar (Al-Muhdhar). Menaranya pun terbuat dari tanah. Kuat sekali.
Di dalam masjid itu ada layanan minum air dari kran. Gratis. Dua kran. Satu kran berisi air minum buatan pabrik. Satu lagi kran air tanah dari bawah masjid –dengan banyak khasiat dan berkah bagi yang memercayainya
Saya minum yang dari air tanah. Minum di dekat kran. Sambil tetap berdiri. Teman saya, orang Tarim, juga mengambil gelas aluminium untuk kran air tanah. Lalu duduk. Baru minum.
Saya pun merasa ditegur secara tidak langsung: kok tidak minum sambil duduk.
“Kenapa Anda tadi tidak menegur saya ketika melihat saya minum sambil berdiri?”
Ia menjawab dengan cerita di zaman Nabi. Suatu saat, Hasan dan Husain, cucu Nabi, melihat orang berwudu dengan cara yang salah. Hasan mengajak Husain untuk menegur orang itu. Husain mencegah. “Lebih baik kita berwudu dengan cara yang benar di sebelah orang itu,” jawab Husain seperti yang ditirukan teman Tarim saya.
Tarim sangat religius.
Ajaran soal tangan kanan, minum sambil duduk, pakai siwak, dan sebangsa itu begitu dalamnya dihayati.