Berdasarkan data Departemen Luar Negeri AS, sekitar 30 juta warga Iran memanfaatkan layanan VPN yang didanai AS selama gelombang protes pada 2022.
Situasi serupa juga terjadi dalam konflik selama 12 hari pada Juni lalu. Saat itu, Iran kembali melakukan pemadaman internet hampir total menyusul serangan dari AS dan Israel. Meski demikian, sekitar 20 persen warga disebut masih dapat mengakses internet secara terbatas melalui VPN yang mendapat dukungan dari AS.
Seorang pejabat Departemen Luar Negeri menyatakan lembaganya terus mendukung beragam teknologi agar masyarakat Iran tetap terhubung dengan dunia luar. Pemerintah AS juga disebut bekerja sama dengan mitra internasional untuk memperluas kapasitas akses tersebut.
Sumber: Anadolu