“Tidak apa-apa. Ini kan diasuransikan,” jawab saya selalu.
Sebenarnya saya sudah cukup ”gigih” merayu Prija: agar tetap bekerja di JP. Artinya: tinggalkan pekerjaan dosen di UB. Ia sudah tujuh tahun bekerja di Jawa Pos. Sudah meliput banyak peristiwa besar. Sudah menjadi pemred mingguan Gugat di bawah koordinasi Imawan Mashuri. Sudah sering ditugaskan ke luar negeri. Sudah beberapa kali diinterogasi aparat hukum dan keamanan soal kerasnya isi tulisannya.
Saya tawari Prija uang Rp 30 juta. Tapi pinjaman. Untuk beli rumah. Ia menolak. Ia mau kalau bukan pinjaman. Tapi tidak mungkin diberikan begitu saja: ”tidak ada pintu administrasi” untuk pengeluaran seperti itu. Padahal sudah saya bilang: boleh dikembalikan kapan saja dengan cara apa saja.
Tapi reaktor UB waktu itu, Prof Dr Zainal Arifin, punya tawaran lebih menarik. Prija akan disekolahkan sampai S-3. Prija menyerah ke UB. Dan itu terbukti merupakan keputusannya yang sangat tepat. Kalau ia tetap di Jawa Pos saya bisa menangisinya sekarang.
Selama di Jawa Pos, Prija memang bisa membeli rumah terkecil dari yang ada: tipe 36. Dengan cara mencicil. Lunas. Lalu beli lagi rumah kedua: dua kali lebih besar. Rumah itu ia pertahankan sebagai catatan dalam hidup dan karirnya.
Waktu Amang dikukuhkan sebagai guru besar, saya tidak bisa hadir: sedang di negara manca. Pun saat Prija dikukuhkan Rabu besok.
Dari keputusan Prija memilih berhenti jadi wartawan itu saya berpikir panjang. Masa depan terbaik wartawan adalah jadi dosen. Maka saya membuat keputusan: wartawan yang sudah bekerja lima tahun saya minta melanjutkan kuliah S-2. Dengan biaya sendiri. Setelah lulus, semua biayanya diganti Jawa Pos. Anda tahu apa maksud keputusan seperti itu: pelit terarah.
Dengan punya ijazah S-2, wartawan bisa melamar menjadi dosen. Tugasnya sebagai wartawan dialihkan ke generasi yang lebih muda. Kerja wartawan perlu fisik yang muda. Tapi akan dikemanakan wartawan senior sungguh tidak mudah. Maka menyiapkannya menjadi dosen tidaklah mahal.