-
Presiden AS saat itu, Barack Obama
-
Presiden Rusia saat itu, Dmitry Medvedev
Isi utamanya mencakup pembatasan ketat terhadap arsenal nuklir strategis kedua negara.
Batasan dalam New START
Perjanjian ini menetapkan bahwa masing-masing negara hanya boleh memiliki:
-
1.550 hulu ledak nuklir terpasang
-
800 peluncur (terpasang maupun tidak)
-
700 wahana pengantar terpasang, termasuk:
-
Rudal balistik antarbenua (ICBM)
-
Rudal balistik kapal selam
-
Pesawat pembom berat nuklir
-
Tujuan utamanya adalah menekan risiko perang nuklir dan menjaga keseimbangan kekuatan strategis.
Berakhirnya perjanjian ini otomatis:
-
Mengurangi transparansi inventaris nuklir
-
Menghapus inspeksi timbal balik
-
Mengendurkan batas penempatan senjata
Situasi ini memicu kekhawatiran analis keamanan global terkait potensi perlombaan senjata nuklir baru.
Apalagi AS dan Rusia menguasai sekitar 90 persen senjata nuklir dunia.
Washington sebelumnya menilai New START terlalu membatasi fleksibilitas militernya.
AS mengeluh tidak leluasa menambah sistem rudal strategis, terutama untuk mengimbangi Rusia dan Cina.
Karena itu, Trump ingin kesepakatan baru yang mencerminkan realitas geopolitik terkini.
Trump Desak Cina Ikut Perundingan
Salah satu poin penting yang didorong Trump adalah keterlibatan Cina dalam perjanjian nuklir masa depan.
Menurutnya, pengurangan senjata nuklir tidak akan efektif tanpa melibatkan Beijing.
Namun Cina menolak gagasan tersebut.
Alasannya:
-
Arsenal nuklir Cina jauh lebih kecil
-
Tidak sebanding dengan AS dan Rusia
Karena itu Beijing menilai tidak relevan disamakan dalam kerangka pembatasan yang sama.
Kekhawatiran Global Meningkat
Berakhirnya New START terjadi di tengah meningkatnya ketegangan nuklir global, antara lain:
-
Konflik Rusia–Ukraina
-
Ketegangan NATO vs Rusia
-
Persaingan militer AS–Cina
-
Ketegangan India–Pakistan
Para analis khawatir berakhirnya pakta pengendalian senjata akan mengikis “tabu nuklir” yang selama ini menahan penggunaan senjata pemusnah massal.
Putin sendiri sebelumnya sempat mengisyaratkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir sebagai respons terhadap dukungan Barat untuk Ukraina.
Pernyataan itu sempat memicu alarm internasional.