Konteks Keluarga dan Tanggapan Masyarakat
YBS berasal dari keluarga sederhana. Ibunya, yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan, harus menghidupi lima orang anak setelah ditinggal suami. Permintaan buku dan pena seharga kurang dari Rp10.000 ternyata menjadi beban bagi keluarga. Kasus ini menyebar cepat dan menimbulkan keprihatinan luas, terutama karena korban masih berusia sangat muda.
Anggota Komisi X DPR Habib Syarief Muhammad mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikbudristek) mengusut tuntas latar belakang kejadian. Ia menyebut kasus ini sebagai “alarm keras” bahwa masih ada anak-anak yang tidak mendapatkan kebutuhan belajar paling mendasar. Pengamat politik Rocky Gerung juga menilai tragedi ini sebagai cerminan kegagalan negara dalam menjamin keadilan sosial, terutama di tengah narasi pertumbuhan ekonomi yang sering disampaikan.
Peringatan dan Pesan Pencegahan
Tragedi ini mengingatkan kita tentang pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental anak, terutama mereka yang tinggal di keluarga kurang mampu. Sekolah, pemerintah, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk memastikan akses pendidikan yang layak dan memberikan dukungan emosional agar anak-anak tidak terjebak dalam kesulitan yang mengarah pada tindakan nekat.
Artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi tindakan serupa. Bunuh diri adalah keputusan yang tidak dapat diubah dan menimbulkan dampak mendalam bagi keluarga, teman, dan komunitas. Jika Anda atau orang terdekat merasakan gejala depresi atau pemikiran untuk bunuh diri, segera hubungi pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, atau hotline kesehatan jiwa.
- Untuk informasi layanan kesehatan jiwa, Anda dapat menghubungi Hotline Into the Light Indonesia di 0812-1292-8282 atau mengunjungi situs web https://www.intothelightid.org.