finnews.id – Sebuah fenomena alam yang mencengangkan sekaligus mengerikan tengah terjadi di Kampung Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Sebuah lubang raksasa yang awalnya hanya seukuran sumur kecil di awal tahun 2000-an, kini telah bermutasi menjadi “jurang” menganga dengan luas fantastis melebihi 30.000 meter persegi.
Banyak yang mengira ini adalah sinkhole misterius, namun Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh akhirnya mengungkap fakta ilmiah di baliknya.
Fakta Mengejutkan: Luasnya Bertambah 10.000 m² dalam 3 Tahun
Berdasarkan data terbaru dari Dinas ESDM Aceh, pergerakan tanah di lokasi tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti.
- Tahun 2021: Luas longsoran tercatat 20.199 m².
- Tahun 2026 (Sekarang): Luasnya melonjak drastis hingga di atas 30.000 m².
Artinya, dalam waktu singkat, terjadi perluasan area terdampak lebih dari 10.000 m². Fenomena ini terus mengancam infrastruktur dan keselamatan warga di sekitarnya.
Bukan ‘Sinkhole’, Kenali Apa Itu ‘Piping Erosion’
Kabid Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Aceh, Ikhlas, menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah sinkhole (lubang runtuhan yang biasanya terjadi di daerah kapur).
“Badan Geologi sudah menyatakan itu bukan sinkhole, melainkan Piping Erosion atau erosi bawah permukaan,” tegas Ikhlas di Banda Aceh.
Mengapa Tanah di Kampung Bah Begitu Rapuh?
Ada “resep” geologi yang membuat wilayah ini sangat rentan:
- Material Tufa Vulkanik: Tanah di sana berasal dari sisa letusan Gunung Geureudong yang bersifat lepas, berpori, dan mudah “kenyang” air.
- Erosi Lateral: Aliran air bawah tanah terus mengikis lapisan tanah dari dalam, menciptakan rongga seperti pipa (buluh) yang perlahan meruntuhkan permukaan atasnya.
- Topografi Ekstrem: Tebing yang hampir tegak lurus membuat lereng sangat tidak stabil, terutama jika diguncang gempa atau diguyur hujan lebat.
Sejarah Kelam: Dari Lubang Kecil Menjadi Pemutus Jalan
Fenomena ini bukan terjadi dalam semalam. Catatan sejarah menunjukkan betapa kuatnya kekuatan alam di Kampung Bah:
- Awal 2000-an: Mulai muncul lubang-lubang kecil.
- Tahun 2006: Longsoran besar memutus jalan utama penghubung Aceh Tengah dan Bener Meriah.
- Tahun 2013-2014: Skala kerusakan memaksa relokasi massal warga Kampung Bah Serempah ke lokasi baru.
Langkah Darurat: Apa yang Harus Dilakukan?
Mengingat kondisi tanah yang masih jenuh air dan labil, Dinas ESDM mengeluarkan rekomendasi ketat bagi pemerintah daerah dan warga:
1. Mitigasi Struktural & Non-Struktural
Pemerintah perlu memperkuat tebing dan mengatur ulang drainase agar air tidak membebani tanah yang sudah rapuh. Selain itu, edukasi kebencanaan bagi warga adalah harga mati.
2. Relokasi Jalan dan Saluran Air
Pemkab Aceh Tengah disarankan segera merelokasi jalan ke area yang lebih stabil agar tidak ada lagi akses publik yang terputus secara tiba-tiba.
3. Pantau Retakan Baru
Masyarakat dilarang keras mendekati area longsoran, terutama saat musim hujan. Jika melihat retakan memanjang atau melebar di permukaan tanah, segera lapor ke instansi berwenang sebelum longsor susulan terjadi.