Dari sudut pandang psikologi sosial, fenomena sok imut bisa dipahami sebagai bentuk pencarian validasi dan kebutuhan akan pengakuan. Media sosial menyediakan panggung instan, di mana perhatian publik menjadi ukuran eksistensi.
Sementara dari sisi budaya digital, tren ini menunjukkan bagaimana standar hiburan mengalami pergeseran. Hal-hal yang dianggap berlebihan di dunia nyata justru bisa diterima, bahkan diapresiasi, di ruang virtual.
Peran Penonton dan Literasi Digital
Fenomena sok imut tidak bisa dilepaskan dari peran penonton. Selama konten tersebut mendapat atensi tinggi, tren ini akan terus berulang. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memiliki literasi digital, antara lain:
- Membedakan hiburan dan manipulasi emosi
- Tidak mudah terpancing komentar negatif
- Menghargai kreativitas tanpa harus menormalisasi perilaku yang tidak sehat
Fenomena sok imut di TikTok adalah gambaran kompleks dari dinamika media sosial masa kini. Ia bisa menjadi hiburan ringan, strategi konten, sekaligus cermin kebutuhan psikologis manusia akan perhatian dan penerimaan.
Pada akhirnya, pilihan kembali kepada kreator dan penonton. Apakah TikTok akan dipenuhi konten autentik yang beragam, atau justru terus didominasi oleh tren-tren instan yang viral sesaat. Yang jelas, fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh media sosial dalam membentuk perilaku dan selera publik digital.