finnews.id – Fenomena Sok Imut di TikTok: Antara Strategi Konten dan Kritik Sosial
Media sosial TikTok telah menjadi ruang ekspresi yang sangat berpengaruh, terutama di kalangan generasi muda. Salah satu tren yang mencuri perhatian adalah fenomena “sok imut”, yaitu perilaku pengguna—baik perempuan maupun laki-laki—yang sengaja menampilkan gaya bicara manja, ekspresi wajah berlebihan, gerakan tubuh kekanak-kanakan, hingga penggunaan filter lucu untuk menarik perhatian audiens.
Fenomena ini kerap viral, menuai jutaan penonton, sekaligus memantik perdebatan: apakah “sok imut” sekadar hiburan dan strategi algoritma, atau justru cerminan masalah sosial yang lebih dalam?
Apa Itu Fenomena Sok Imut?
Fenomena sok imut merujuk pada upaya sadar seorang kreator konten untuk menampilkan kesan polos, manja, dan menggemaskan, meskipun usia dan konteks sosialnya sudah dewasa. Di TikTok, hal ini biasanya ditandai dengan:
- Nada suara dibuat kekanak-kanakan
- Ekspresi wajah berlebihan (pout, senyum dibuat-buat)
- Gesture tubuh seperti anak kecil
- Pemakaian filter lucu atau efek suara imut
- Caption bernada manja atau memancing simpati
Konten semacam ini sering muncul dalam format lipsync, live streaming, hingga video interaksi dengan penonton.
Mengapa Sok Imut Mudah Viral?
Ada beberapa faktor yang membuat konten sok imut cepat menyebar di TikTok:
1. Algoritma TikTok yang Mengutamakan Interaksi
Konten yang memancing komentar, reaksi emosional, dan perdebatan cenderung lebih sering muncul di halaman For You Page (FYP).
2. Daya Tarik Visual dan Emosional
Bagi sebagian penonton, gaya imut dianggap menghibur, menggemaskan, bahkan memicu rasa protektif.
3. Strategi Personal Branding
Beberapa kreator menjadikan persona imut sebagai ciri khas untuk membangun identitas dan loyalitas pengikut.
4. Monetisasi dan Popularitas
Semakin viral konten, semakin besar peluang mendapatkan endorsement, gift saat live, hingga kerja sama brand.
Antara Hiburan dan Kontroversi
Meski dianggap lucu oleh sebagian orang, fenomena sok imut juga menuai kritik tajam. Banyak warganet menilai gaya ini:
- Terlihat tidak autentik atau dibuat-buat
- Dianggap merendahkan citra kedewasaan
- Berpotensi mengeksploitasi kesan kekanak-kanakan demi popularitas
- Memicu komentar negatif dan cyber bullying
- Tak jarang, kreator sok imut justru menjadi sasaran hujatan, parodi, hingga konten reaction yang menyudutkan.
Perspektif Psikologis dan Sosial