finnews.id – Dukun atau paranormal sejatinya bukan sosok asing dalam budaya Nusantara. Mereka telah lama hadir dalam tradisi masyarakat sebagai penyembuh, penasehat spiritual, atau penjaga adat. Namun, ketika praktik yang bersifat personal dan sakral ini berpindah ke ruang publik media sosial, maknanya pun bergeser.
Platform seperti TikTok, Facebook, dan YouTube menjadi arena baru. Dengan modal kamera ponsel dan koneksi internet, para dukun melakukan “adu kesaktian”—mulai dari saling kirim santet jarak jauh, membuktikan kekebalan tubuh, hingga memamerkan makhluk gaib yang diklaim sebagai khodam peliharaan.
Tak bisa dipungkiri, sebagian besar pertempuran dukun di medsos berkaitan erat dengan ekonomi atensi. Konten mistik terbukti mudah viral karena menyentuh rasa takut dan ingin tahu publik. Semakin kontroversial aksinya, semakin tinggi jumlah penonton, pengikut, dan potensi donasi digital.
Seperti dikutip dari postingan IG akun @kalteng.story, menayangkan aktivitas paranormal atau dukun yang diduga dilakukan di sebuah platform media sosial dan sudah beredar luas.
Aktivitas tersebut beruntungnya sempat direkam dari rekaman layar.
Dengan cepat, postingan tersebut juga memancing reaksi netizen, mulai dari rasa penasaran hingga keraguan.
Bahkan tak hayal, komentar dari netizen mengundang gelak tawa tersendiri dalam menyikapi peristiwa tersebut.
Hingga kini, masih belum ada klarifikasi lebih lanjut dari pihak-pihak yang terlibat dalam video tersebut.
Bagi sebagian warganet, pertempuran dukun hanyalah hiburan absurd di tengah padatnya konten serius. Namun, persoalan muncul ketika klaim-klaim supranatural tersebut dipercaya mentah-mentah, terutama oleh masyarakat dengan literasi digital dan sains yang masih terbatas.
Fenomena ini juga berpotensi memicu konflik sosial. Tuduhan santet, serangan gaib, atau fitnah berbasis mistik dapat merusak reputasi seseorang dan menimbulkan ketakutan kolektif. Secara psikologis, individu yang mudah sugesti bisa mengalami kecemasan berlebihan, bahkan gangguan psikosomatis.