Beberapa atraksi yang sering terlihat antara lain:
- Menusuk pipi atau lidah dengan besi tajam
- Berdiri atau duduk di atas mata pedang
- Menginjak pecahan kaca
Bagi masyarakat setempat, atraksi ini bukanlah tontonan semata, melainkan bukti kehadiran kekuatan spiritual dan bentuk pengabdian Tatung kepada roh yang merasukinya.
Simbol Toleransi dan Keberagaman
Menariknya, Tatung di Singkawang tidak hanya berasal dari etnis Tionghoa. Banyak Tatung berasal dari suku Dayak, bahkan ada pula yang beragama non-Konghucu. Hal ini menunjukkan bahwa Tatung telah menjadi simbol toleransi dan keberagaman di Singkawang.
Pawai Tatung saat Cap Go Meh menjadi ruang perjumpaan budaya, di mana perbedaan agama dan etnis melebur dalam satu perayaan bersama. Inilah yang menjadikan Singkawang kerap disebut sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia.
Tatung dan Pariwisata Budaya
Dalam beberapa dekade terakhir, tradisi Tatung menjadi ikon pariwisata budaya Singkawang. Ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara datang setiap tahun untuk menyaksikan langsung kemeriahan Cap Go Meh dan atraksi Tatung.
Pemerintah daerah pun berupaya menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai sakral Tatung dan pengembangan pariwisata. Tantangannya adalah memastikan bahwa Tatung tidak semata-mata dikomodifikasi, tetapi tetap dihormati sebagai ritual spiritual yang memiliki nilai luhur.
Tatung di Singkawang bukan sekadar atraksi ekstrem, melainkan tradisi spiritual yang kaya makna dan sejarah. Ia menjadi cermin bagaimana budaya, kepercayaan, dan keberagaman dapat hidup berdampingan secara harmonis. Di tengah modernisasi, Tatung tetap berdiri sebagai simbol identitas budaya Singkawang yang patut dijaga dan dilestarikan.
Tradisi ini mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah pemisah, melainkan kekuatan yang memperkaya kehidupan bersama.